Kiprah PGN hadirkan senyum untuk kaum ibu

Sabtu, 30 November 2019 | 22:44 WIB ET

SURABAYA, kabarbisnis.com: Pintu pagar besi berderit dan pelan-pelan terbuka. Lalu dari balik pintu, seorang wanita berusia 72 tahun berdiri. Dialah Ibu Harinawangsih, yang menghuni rumah berukuran 8 x 12 meter persegi beralamatkan di Blok 7A No. 19 Kelurahan Manukan Kulon, Kecamatan Tandes, Surabaya. 

Mengerti maksud kedatangan saya ke rumahnya, Bu Ina, panggilan akrabnya, bergegas mengajak saya masuk ke dalam rumah. Di ruang dapurnya, ia menuturkan pengalamannya menggunakan gas bumi untuk keperluan memasak atau membuat kue. Gas bumi yang mengalir ke rumahnya itu adalah buah dari program “Sayang Ibu” yang dijalankan oleh PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN).

“Gas PGN ini berkah buat saya, karena telah banyak membantu,” tuturnya.

Sejak suaminya meninggal dunia, Ibu Ina melanjutkan, ia harus berjuang sendiri demi keberlangsungan pendidikan dan kehidupan tiga anaknya dengan berjualan kue. Awal-awal merintis usahanya itu, ia menggunakan minyak tanah yang disubsidi pemerintah seharga Rp2.500 per liter. Bukan soal harga minyak tanah, tapi cara mendapatkannya itu yang membuatnya kesal. Karena harus antri dari siang hari sampai malam hari dengan menaruh jeriken di pangkalan minyak tanah yang paling dekat dari rumahnya. Membelinya pun juga dibatasi, tidak boleh lebih dari 10 liter.

“Karena kebutuhan saya banyak, saya biasa membayar anak-anak tetangga untuk ikut antri beli minyak tanah,” ucapnya.

Gara-gara kesal antri itu, dia sempat beralih ke gas elpiji tabung, tetapi tidak beberapa bulan kemudian balik lagi memakai minyak tanah karena takut meledak setelah tahu tabung gas elpijinya menguap.

Tapi itu tak lantas membuatnya trauma. Saat ada proyek pembangunan jaringan gas (jargas) di Kota Surabaya pada 2009  seiring gencarnya program konversi minyak tanah (BBM) ke gas dan Kelurahan Manukan Kulon menjadi salah satu kelurahan yang masuk dalam proyek itu, dirinya ingin rumahnya bisa tersambung dengan jargas tersebut. Namun keinginan itu tidak sampai terkabulkan. Karena uang untuk membayar biaya pemasangan pipa dari meteran ke kompor tak cukup. 

“Waktu itu suami saya pas tidak punya uang, sekalipun diberi kelonggaran untuk mencicil, kami pun tidak sanggup,” kata Bu Ina.

Baru empat tahun kemudian keinginannya itu terkabulkan. Melalui program “Sayang Ibu”, PGN memberi Bu Ina kesempatan pemasangan pipa gas secara mandiri. Kesempatan itu pun tak disia-siakan. Pas minyak tanah waktu itu juga sedang sulit didapat bersamaan dengan tuntasnya program konversi minyak tanah ke gas di Kota Surabaya. Walaupun ia harus bayar Rp 3 juta atau lebih mahal dari pemasangan sebelumnya karena dianggap pasang mandiri. Biaya sebesar itu untuk pemasangan pipa dari sambungan di depan rumah sampai kompor yang jaraknya 10 meter.

“Bayarnya juga boleh dicicil sampai 10 kali. Tiga bulan sudah terpasang. Senang banget. Saya langsung gunakan masak kue. Ini sungguh berkah buat saya,” katanya dengan mata berkaca-kaca.

Dibilang berkah karena selain mengatasi kesulitannya mendapatkan minyak tanah, mengalirnya gas bumi ke rumahnya juga telah membantu proses penyembuhannya usai menjalani berbagai pengobatan medis yang harus ia lakukan untuk melawan penyakit kanker servik yang ia derita sejak tahun 2006. Pasca pengobatan medis, mulai dari operasi, kemoterapi hingga penyinaran, ia memilih untuk berobat secara tradisional (herbal), dengan membuat jamu sendiri.

“Untung pakai gas bumi ini, karena ngerebusnya kan lama.  Alhamdulillah sekarang sudah 12 tahun tidak apa-apa. Saya suka bikin jamu, bikin ramuan, ngerebus kunir putih dengan air empat gelas hingga menjadi satu gelas. Dan itu membutuhkan waktu yang lama, sekitar satu jam. Kalau tidak dengan gas bumi, pasti saya kesulitan,” katanya.

Di usianya yang ke-72 tahun dan sudah memiliki empat cucu ini masih mencurahkan waktunya untuk membuat kue pesanan dari tetangga atau handai tolannya. “Dasarnya saya ini suka memasak. Sekarang pun saya masih membuat bermacam masakan dan kue,” imbuhnya.

Seperti Ibu Ina, warga Manukan Tengah, Ibu Sudirman juga memetik manfaat dari program “Sayang Ibu” oleh PGN sejak 2014 lalu. Baginya, keamanan adalah hal utama yang ia dapatkan sejak mengonsumsi gas bumi PGN. Karena ia sangat takut menggunakan gas elpiji karena banyaknya kejadian gas elpiji meledak. "Senangnya itu karena angka kecelakaan tidak ada, terjadi pengiritan dan tidak takut kehabisan saat malam. Banyaklah keuntungan yang bisa saya rasakan," katanya.

Ia mengaku, sejak mengonsumsi gas bumi, pengeluarannya untuk bahan bakar relatif lebih kecil. Jika saat menggunakan elpiji ia harus mengeluarkan biaya sebesar Rp 300 ribu atau bahkan lebih dalam setiap bulan, maka dengan beralih ke gas bumi biaya menjadi sangat ringan, hanya sekitar Rp 60 ribu hingga Rp 65 ribu per bulan. "Pada saat awal menggunakan gas bumi, tagihan saya hanya sekitar Rp 60 ribu hingga Rp 65 ribu per bulan. Ini jauh lebih kecil dibanding saat saya menggunakan gas elpiji. Kalau sekarang tagihan gas bumi saya sekitar Rp 100 ribu per bulan," tambahnya.

Apalagi layanan gas bumi PGN ini juga dinilai bagus. Bahkan sejak ia menjadi pelanggan, hanya satu kali aliran gasnya mati. Itu pun sudah ada pemberitahuan lebih dahulu. "Layanan gas negara ini jauh lebih bagus dari PLN," akunya.

Program Sayang Ibu adalah sambungan gas rumah tangga yang dana pembangunan infrastruktur pipa tidak berasal dari APBN, melainkan dari kas PGN dan pelanggan dikenakan biaya sambungan seperti halnya awal berlangganan listrik maupun air minum.

Program PGN “Sayang Ibu” bertujuan memperbanyak rumah menggunakan energi baik gas bumi. Hingga akhir 2019 diharapkan ada 110.000 sambungan gas rumah tangga.

 

Berlangsungnya progam Sayang Ibu di Surabaya tak lepas dari dukungan Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya yang menilai program tersebut sejalan komitmen Kota Surabaya untuk mewujudkan Green City.

 

“Program Jargas dan PGN Sayang Ibu ini sejalan dengan program Surabaya sebagai Green City. Serta menjadi salah satu momentum nyata keberpihakan pemerintah kepada kebutuhan nyata masyarakat,” kata Walikota Surabaya Tri Rismaharini dalam satu kesempatan peresmian Proyek Infrastruktur Energi Jaringan Gas Bumi Kota Surabaya di Rungkut, Surabaya.

Ibu Sudirman berharap, kemudahan dan murahnya biaya bahan bakar yang ia rasakan ini tidak hanya dirasakan oleh sebagian warga saja, tetapi juga oleh seluruh warga. Karena banyak warga yang belum terpasang jaringan gas di rumahnya, padahal mereka telah mengajukan sejak lama.

 

"Warga di belakang itu kan dulu tidak ada yang pasang karena saat itu, ada salah satu warga yang kebetulan berjualan elpiji melakukan boikot, akhirnya tidak ada yang pasang. Dan sekarang mereka ingin dipasang jargas," katanya.

 

Sales Area Head PGN Surabaya Misbachul Munir mengatakan bahwa saat ini, total pelanggan gas bumi di wilayah Surabaya mencapai 119.138 pelanggan. Terbesar adalah pelanggan Rumah Tangga yang mencapai  67.112 pelanggan, dengan perincian pelanggan RT dari program  jargas sebanyak  25.447 pelanggan dan non jargas sebesar 41.665 pelanggan.

 

Selanjutnya pelanggan komersial dan industri mencapai 42.626 pelanggan. Dan yang terakhir adalah pelanggan Kecil yang mencapai 152 pelanggan, yang terdiri dari program jargas  23 pelanggan dan non jargas 128 pelanggan. "Kami akan terus berkomitmen membantu Pemkot Surabaya dalam menuntaskan cita-citanya untuk menjadikan Surabaya sebagai City Gas. Dan pengembangan Jargas di Surabaya sepenuhnya akan mengikuti program dari Kementerian ESDM. Karena merekalah yang selalu akan mengundang kepala daerah yang akan dipasangi jargas setiap tahunnya," katanya.

Sementara di tahun 2020, Surabaya kembali akan mendapatkan alokasi jargas sebanyak 6.000 sambungan rumah (SR), khususnya di kelurahan tambaksari Kecamatan Tambaksari.

Pelaksana Tugas (Plt) Dirjen Migas Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Djoko Siswanto saat  meresmikan jaringan gas rumah tangga (jargas) di Pasuruan di Probolinggo, Rabu (16/10/2019) mengatakan, dukungan pemda sangat penting dalam mewujudkan jargas rumah tangga, karena berdasarkan pengalaman selama ini, terdapat beberapa kendala non teknis yang berpotensi menghambat pembangunan jargas seperti perizinan, maupun permasalahan sosial yang terjadi pada saat pelaksanaan pembangunan.

“Dengan dukungan Pemda, masyarakat dapat lebih cepat menikmati gas bumi yang bersih dan murah," katanya.

Menurut dia, tahun ini, pemerintah menggunakan dana APBN untuk membangun 74.307 jargas yang tersebar di 16 lokasi mulai dari Aceh di ujung Sumatera hingga Wajo di Sulawesi.

Di tempat yang sama, Direktur Infrastruktur dan Teknologi PGN, Redy Ferryanto mengatakan banyak sekali manfaat penggunaan gas bumi bagi rumah tangga. Selain bersih, juga menekan subsidi sektor energi. “Pemerintah bisa menghemat Rp 178 miliar per tahun. Proyek pembangunan juga menyerap tenaga kerja yang tidak sedikit,” ucap dia.

Hingga akhir 2018, total jargas rumah tangga di Indonesia berjumlah 486.229 sambungan di mana 67 persen atau 325.773 di antaranya dibangun menggunakan dana APBN. Sementara 155.771 atau 32,04 persen dibangunan menggunakan dana PGN dan 4.685 sambungan dibangun menggunakan dana milik Pertamina.(Dzurriyah Nisa)

Bagikan artikel ini: