Ikhtiar mendulang kemakmuran melalui City Gas

Sabtu, 30 November 2019 | 23:33 WIB ET

MOJOKERTO, kabarbisnis.com: Pemerintah Kota (Pemkot) Mojokerto memiliki mimpi besar untuk menjadikan kota tersebut sebagai “kota gas” (City Gas) dengan memperluas pembangunan jaringan gas (Jargas) untuk mendongkrak pertumbuhan ekonomi kota ini dan kemakmuran warganya.

Wali Kota Mojokerto, Ika Puspitasari mengatakan, penggunaan gas bumi sangat menguntungkan warga kota Mojokerto, utamanya Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM). Selain lebih bersih, bahan bakar gas bumi dinilai lebih ekonomis dan praktis. Apalagi Mojokerto adalah kota dengan beribu UMKM.

Dijelaskannya, Mojokerto adalah kota yang ekonominya lebih banyak ditopang oleh UMKM. Bahkan sumbangannya terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kota Mojokerto mencapai sekitar 60 persen. Data Dinas Koperasi Usaha Mikro dan Tenaga Kerja Kota Mojokerto menunjukkan, jumlah UMKM di Kota Mojokerto di akhir 2018 mencapai 3.553 usaha yang tersebar di tiga kecamatan, yaitu terbesar di kecamatan Magersari, selanjutnya Prajurit Kulon dan Kranggan.

UMKM tersebut bergerak di sejumlah sektor, diantaranya Garmen, mebel, alas kaki, pengrajin kuningan dan kuliner. Alas kaki merupakan produk unggulan UMKM kota Mojokerto. Untuk itulah, ketersediaan bahan bakar yang lebih kompetitif ini dipastikan akan mampu mengerek kinerja UMKM yang selanjutnya berdampak positif terhadap kinerja ekonomi Kota Mojokerto.

“Memang kami masih belum menghitung, berapa besar kontribusi gas bumi terhadap ekonomi Kota Mojokerto. Tetapi kami sangat yakin, ini sangat membantu proses produksi UMKM, seperti UMKM kuliner dan alas kaki. Saat ini, ada banyak pelaku UMKM yang telah menikmati aliran gas bumi dari PGN. UMKM alas kaki misalnya, gas bumi ini digunakan untuk pemanasan saat merekatkan sol dengan lem,” ujar Ning Ita, panggilan akrab Ika Puspitasari saat kunjungan wartawan di Rumah Dinas Walikota Mojokerto, Kamis (21/11/2019).

Apalagi, saat ini Pemkot Mojokerto ingin memperbesar kapasitas UMKM untuk menunjang perekonomian Mojokerto dengan mengembangkan sentra kuliner di beberapa titik yang potensi pengembangannya cukup besar. Di antaranya adalah sentra kuliner di sekitar alun-alun di Jalan Majapahit dan di wisata kolam renang Mekarsari kota Mojokerto.

Sentra UMKM kuliner juga akan dibangun bersamaan dengan dibangunnya tempat peristirahatan (rest area) d Gunung Gedangan, yang menjadi pintu keluar (exit) wisatawan sebelum menuju ke tujuan obyek wisata di kota Malang atau Probolinggo.

“Nah, pada pengembangan sentra kuliner di berbagai titik itu yang tahun ini sudah dimulai pembangunannya dan bisa dioperasikan tahun depan, seperti di alun-alun Mojokerto yang juga menjadi pilot percontohan itu, Pemkot Mojokerto berharap ada dukungan PGN untuk jaringan gas di sana sehingga kebutuhan gas bagi UMKM kuliner di sana juga bisa terpenuhi,” ungkap Ning Ita.

Sejumlah UMKM yang telah menikmati gas bumi mengaku beruntung dengan adanya fasilitas tersebut. Owner Bogarasa, Esti Wahyuni salah satu pengusaha mikro kecil dan menengah sektor kuliner di jalan KH Usman, Kelurahan Surodinawan, Kecamatan Prajurit Kulon Kota Mojokerto mengaku sangat terbantu dengan adanya layanan gas bumi PGN. “Gas bumi ini sangat membantu. Sangat hemat, ekonomis dan praktis,” ujar Esti Wahyuni.

Esti telah menekuni bisnis kuliner ini sejak 9 tahun yang lalu. Saat itu, untuk memenuhi kebutuhan bahan bakar, ia menggunakan gas tabung elpiji 12,5 kilogram. Ketika pesanan banyak, kebutuhan gas elpiji bisa mencapai 2 tabung kapasitas 12,5 kg, sehingga biaya bahan bakar dalam sebulan  rata-rata mencapai Rp 1 juta per bulan.

“Ketika saya berpindah menggunakan gas bumi di tahun 2017, biaya bahan bakar turun banyak. Sekarang rata-rata tagihan gas bumi saya mencapai Rp 600 ribu per bulan. Selain karena harga lebih murah, juga karena tidak ada gas bumi yang terbuang. Beda dengan elpiji, saat tinggal sedikit, oven sudah tidak bisa digunakan, gasnya ada yang tersisa di tabung,” katanya.

Kegembiraan yang sama juga diungkapkan oleh Owner Pretty Handmade, Anik Nurtiana, salah satu pengrajin alas kaki dan tas di Kota Mojokerto.  Walaupun baru dua bulan merasakan kemanfaatan menggunakan gas bumi, Anik merasa puas dan berharap bisa ditambah.

Saat ini, gas bumi yang mengalir ke rumah produksinya hanya bisa mengaliri dua oven alas kaki dengan kapasitas 5 pasang alas kaki per oven. Sementara tagihan per bulannya mencapai sekitar Rp 300 ribu. Biaya ini lebih murah dibanding menggunakan gas melon yang rata-rata sebulan bisa mencapai Rp 360.000

“Tagihan listrik saya masih mencapai Rp 2 juta karena oven besar masih menggunakan listrik. Makanya mau saya pindahkan ke gas bumi juga. Tetapi untuk menjadi pelanggan menengah itu belum bisa karena kebutuhan gas saya masih skala kecil dan belum mencapai target. Oleh karena itu, kami berharap produksi kami akan semakin besar sehingga biaya bahan bakar bisa ditekan,” ujar Anik. 

Lestari Handayani, salah satu pegawai di Dinas Pendidikan Jawa Timur adalah konsumen loyal alas kaki kulit Mojokerto. Ia mengaku cukup senang dengan berbagai jenis alas kaki yang diproduksi Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) di Mojokerto.

Selain desainnya bagus, kualitas alas kaki yang dihasilkan UMKM Mojokerto ini juga tidak kalah dengan alas kaki produksi perusahaan ternama. Berbahan baku kulit sapi dengan proses pengolahan yang tepat, menjadikan alas kaki yang diproduksi tahan lama dan nyaman digunakan.

 "Untuk memiliki sepatu atau sandal dengan kualitas dan desain yang sangat bagus ini, saya hanya harus mengeluarkan uang sekitar Rp 150 ribu hingga Rp 200 ribu. Harga ini jauh dibanding sepatu kulit yang ada di pusat perbelanjaan modern," katanya.

 Lestari mengaku, tidak hanya dia yang senang dengan alas kaki produksi UMKM Mojokerto, beberapa saudaranya juga sering membeli produk alas kaki yang sama dengan miliknya.

 "Kakak saya dan teman-temannya juga sering memesan sepatu kulit asal Mojokerto ini. Rata-rata mereka mengaku puas dan senang," ujarnya.

Tidak hanya untuk UMKM, Ning Ita juga meminta dukungan PGN dalam pemenuhan energi di sejumlah kawasan wisata. Terlebih Kota Mojokerto saat ini juga tengah gencar-gencarnya memacu kinerja sektor tersebut.

Dia menjelaskan, potensi pariwisata Mojokerto cukup besar, jumlah hotel yang beroperasi pun juga sudah banyak. Alon-alon kota mojokerto misalnya, didesain menjadi tempat rekreasi dan pusat kuliner. Menjadi jujugan keluarga untuk berekreasi, tempat ini selalu ramai dari pagi hingga malam hari.

Ada juga Dermaga sungai Brantas yang menjadi objek wisata air, terdapat joking track sepanjang 1 km, juga terdapat pusat kuliner. Kawasan ini terletak di Hayam Wuruk sampai jembatan gajah mada. Juga ada Pemandian mekarsari di jalan Empunala. Kolam renang yang dilengkapi dengan fasilitas permainan anak-anak dan pusat kuliner. Sedangkan jumlah hotel yang beroperasi hingga 2018 mencapai 11 unit hotel dengan jumlah kamar 452 unit kamar. Lalu, proyek untuk meningkatkan potensi pariwisata, yakni grand design Majapahit seluas 5 ha di kawasan Mojokerto barat yang akan mengenang kejayaan Majapahit tempo dulu.

Selain itu, menurut dia, Pemkot Mojokerto juga berharap dukungan PGN untuk kebutuhan gas bagi proyek lain di Mojokerto, seperti rumah susun sederhana sewa (rusunawa) empat lantai yang sudah selesai dibangun di Kelurahan/Kecamatan Prajurit Kulon, Kota Mojokerto. “Kami juga ingin peran PGN di proyek-proyek tersebut untuk bisa memenuhi kebutuhan gasnya,” kata Ning Ita.

Atas keinginan tersebut, PGN berkomitmen akan memberikan dukungan kepada Pemkot Mojokerto dalam upaya memenuhi kebutuhan gas untuk meningkatkan perekonomian dan kesejahteraan warga kota Mojokerto . “Kami siap membantu keinginan tersebut. Pastinya sesuai dengan arahan Kementerian ESDM,” imbuh Senior Analis Stakeholder Strategi Manajemen PGN, Hamal Syahan.

 Proyek jargas di Kota Mojokerto dimulai tahun 2016. Waktu itu Pemkot Mojokerto mengusulkan bantuan jargas sejumlah 17.863 sambungan rumah (SR) dan hanya terealisasi sebanyak 5.000SR di tahun 2017. Kemudian di tahun 2018, Pemkot Mojokerto mengajukan sebanyak 22.306 SR, namun realisasinya hanya 4.000 SR yang akan bisa dinikmati warga pada tahun 2019 ini.

Delapan Kelurahan yang sudah dan akan mendapat sambungan jargas adalah Magersari, Kelurahan Gedongan, Kelurahan Balongsari, Kelurahan Kedundung, Kelurahan Purwotengah, Kelurahan Jagalan, Kelurahan Sentanan dan Kelurahan Mentikan. Dan tahun 2020 diproyeksikan ada 6.000 (SR) baru. (Dzurriyah Nisa)

Bagikan artikel ini: