Malang berpotensi jadi kluster pengembangan kopi nasional

Senin, 2 Desember 2019 | 09:14 WIB ET

MALANG, kabarbisnis.com: Malang berpotensi menjadi kluster pengembangan kopi nasional pada 2020. Hal ini didasarkan pada potensi yang dimiliki Malang baik sebagai salah satu pusat produksi maupun pasar kopi di Tanah Air.

Anggota Komisi XI DPR RI Andreas Eddy Susetyo mengatakan, Malang cocok sebagai salah satu kluster pengembangan kopi nasional karena potensinya memang ada. Selain kebun tanaman kopi di Ampelgading, Tirtoyudo, dan Dampit, juga ada di Karangploso di lereng Gunung Arjuno, Kab. Malang. Di Kab. Malang, lahan kebun kopi jenis Robusta mencapai 16.000 hektar, sedangkan Arabika ada 6.000 hektare.

“Begitu juga dengan sisi hilirnya, di Malang banyak berdiri coffee shop dan pelaku bisnis kopi, bahkan eksporter,” ungkapnya di Malang, Minggu (1/12/2019).

Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Jatim Difi Ahmad Johansyah mengatakan apa yang menjadi perhatian BI dalam pengembangan kopi, terutama di Jatim, terkait dengan perbaikan kualitas produksi.

Oleh karena itu, proses mulai dari dari budi daya hingga penanganan pascapanen menjadi penting. Dengan produk yang baik, maka otomatis pasar akan melirik, baik pasar dalam negeri maupun luar negeri.

Pelatihan kepada petani tentu dikonsentrasikan kepada key person maupun kelompok tani unggulan sehingga dapat menjadi model pengembangan bagi budi daya dan proses pascapanen kopi di daerah.

“Kopi bisa menjadi alternatif bagi penopang pertumbuhan ekonomi nasional,” katanya di sela pembukaan Artcofest: Festival Kopi Malang 2019 di Malang, akhir pekan lalu.

Kepala Perwakilan BI Malang Azka Subhan Aminurridho mengatakan pengembangan kopi di wilayah kerja BI setempat difokuskan di wilayah Malang dan Pasuruan.

Oleh karena itulah, nanti jumlah petani dan luasan kebun yang akan diikutkan program PSBI kluster akan lebih banyak dan luas cakupannya. Dengan begitu nantinya dampak peningkatan kualitas produk kopi bisa terealisasi, begitu juga sisi pengemasannya sehingga lebih mudah diterima pasar.

Kopi di berbagai daerah, kata Difi, dapat menjadi komoditas yang menjadi kebanggaan daerah. Orang Aceh dengan bangga menyebut Kopi Gayo menjadi terbaik di dunia, begitu juga orang Jatim dengan Kopi Ijen Bondowoso, dan Jawa Barat dengan Kopi Malabar dan lainnya. kbc10

Bagikan artikel ini: