Mentan: Pelabuhan Tanjung Perak jadi percontohan di Indonesia

Selasa, 3 Desember 2019 | 21:16 WIB ET
Menteri Pertanian DR. H. Syahrul Yasin Limpo
Menteri Pertanian DR. H. Syahrul Yasin Limpo

SURABAYA, kabarbisnis.com: Pelabuhan Tanjung Perak di Surabaya, menjadi salah satu pelabuhan percontohan bagi pelabuhan yang ada di Indonesia. Sistem manajemen yang bagus menjadi salah satu alasan dijadikannya percontohan.  Hal tersebut disampaikan Menteri Pertanian DR. H. Syahrul Yasin Limpo, SH, M.Si, MH saat Pelepasan Ekspor Komoditas Pertanian di Depo Jangkar Pacific, Surabaya, Senin (2/12/2019).

Manajemen pelabuhan yang bagus, ungkapnya, memberikan dampak signifikan terhadap alur barang yang masuk didalamnya. Sebagai contoh,  komoditas komoditas ekspor Jatim melalui Tanjung Perak persentase penolakan terkecil di negara tujuan. Hal ini menandakan, sistem yang bagus disertai dengan cara kerja yang benar dan kompak antar lini. 

“Hal semacam ini, harus ditingkatkan dan diteruskan agar semakin lancar. Sehingga tidak salah apabila Jatim menjadi percontohan pelabuhan-pelabuhan yang ada di Indonesia. Dimana Semua kendala yang mempersulit dalam pengurusan ekspor dipermudah,” ungkapnya.

Mantan Gubernur Sulsel tersebut meyakini, target ekspor yang dicanangkannya yaitu meningkat 3x lipat bisa berhasil terpenuhi. Melihat trend saat ini dan ada fasilitasi dari hulu yaitu kementerian, maka menjadi hal yang mudah untuk mencapai target tersebut.

“Proses yang kurang bagus diperbaiki dan menjaga yang sudah bagus serta bekerjasama dengan gubernur, bupati serta pusat maka strategi ekspor bisa dilakukan dengan baik. Akselerasi seperti itu akan mendorong tercapainya ekspor tiga kali lipat,” imbuhnya.

Sementara itu, Gubernur Jatim, Khofifah Indar Parawansa menjelaskan dengan keberadaan mobil  klinik ekspor keliling, menjadi salah satu sarana mempermudah para petani maupun pengusaha untuk melakukan ekspor komoditi. Setiap produsen skala menengah bisa terkonsolidasi dengan adanya mobil ekspor keliling. Sehingga mobil klinik menjadi jawaban atas akses ekspor yang selama ini tidak terkonfirmasi

Mobil klinik akan menjangkau seluruh masyarakat di seluruh penjuru Jatim. Dengan demikian, mobil klinik ekspor juga memberikan literasi dan edukasi secara masif, sehingga bisa membuka harapan para masyarakat untuk bisa melakukan ekspor komoditinya.

“Masyarakat akan memperoleh informasi terkait syarat apa saja untuk bisa melakukan ekspor suatu komoditi, tanpa jauh-jauh datang ke kantor pusat. Apabila hal ini bisa menjangkau semua tataran masyarakat, maka target tiga kali lipat ekspor  yang dicanangkan oleh Menteri Pertanian RI akan bisa terealisasi, “ ungkapnya.

Mantan Menteri Sosial RI tersebut menegaskan, kondisi ekspor Jatim saat ini sangat bagus, hal ini dibuktikan dengan semakin banyaknya komoditi yang sudah melakukan ekspor.  Sebagai contoh, kali ini telah dilakukan pelepasan ekspor komoditas pertanian senilai Rp. 805,79 miliar di Depo Jangkar Pacific, Surabaya. 

Dengan semakin bagusnya iklim ekspor di Jatim, maka dampak positifnya adalah terbangun perekonomian yang bisa tumbuh secara signifikan. Oleh sebab itu, untuk menjaga Kondisi seperti itu tetap terpelihara, maka harus terjaga dibarengi dengan menjaga dan meningkatkan suasana ekonomi yang kondusif, stabilitas keamanan terjaga, dan masyarakat terus produktif.”Artinya, suasana pertumbuhan ekonomi tetap terjaga apabila semua lini mulai dari private sector terus bersinergi, yaitu kepala daerah dan pusat. Serta adanya dukungan regulasi yang bagus,” lanjutnya.

Pada kesempatan tersebut, Gubernur Jatim menyatakan akan terus mendorong komoditas untuk melakukan ekspor. Banyak komoditi Jatim yang dianggapnya keren seperti kopi, tembakau, handicraft. Keren yang dimaksud adalah memiliki ciri khas yang berbeda daerah lain, yang tentunya membawa daya tarik tersendiri. “Yang tidak kalah keren adalah Pelabuhan Tanjung Perak memiliki quality control yang bagus, seperti fasilitas fumigasinya bagus,” tambahnya. 

Selain pelepasan ekspor komoditas pertanian juga dilakukan ekspor di beberapa komoditi lain yaitu  bunga cengkeh sebanyak 10 ton senilai Rp. 877,74 juta dengan tujuan Brasil, biji kopi 46 ton, senilai Rp. 1,02 miliar dengan tujuan Italia. pupuk organik sebanyak 54 ton senilai Rp. 119,2 juta dengan tujuan singapura. Kemudian minyak goreng sebanyak 328,5 ton senilai Rp. 3,13 miliar ke Algeria, Plywood  sebanyak 5 ton senilai Rp. 2,08 miliar ke Malaysia dan Filipina, jamur beku sebanyak 20,7 ton senilai Rp. 253 juta ke Belanda. Selanjutnya kopi robusta sebanyak 46 ton senilai Rp. 1,09 miliar ke Italia, biji kopi sebanyak 198 ribu ton senilai Rp.5,08 miliar ke Latvia dan Mesir, kayu manis dan bunga pala  sebanyak 15 ton senilai Rp. 1,2 miliar ke Australia, shuttlecock ke Thailand senilai 58,7 juta, susu sebanyak 21,7 ton senilai Rp. 150 juta ke Singapura dan sarang burung walet sebanyak 105 kg senilai Rp. 3,15 miliar ke Tiongkok.kbc6

Bagikan artikel ini: