Dukung warisan budaya, PLN inovasi membatik pakai canting listrik

Selasa, 3 Desember 2019 | 21:29 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Batik telah ditetapkan sebagai warisan budaya Indonesia oleh Unesco. 

Guna lebih membudayakan batik dan mendekatkan kegiatan membatik kepada anak muda attau kaum milenial, Gallery Amandari Batik bersama PLN bakal menggelar acara bertajuk "The Story of Batik: Legacy, Investment, and Diplomacy", di Magnolia Room, Hotel Grand Mahakam Jakarta, Rabu (4/12/2019).

Dipilihnya batik, menurut Pelaksana Tugas (Plt) Dirut PLN, Sripeni Inten Cahyani, karena batik merupakan karya produk yang menjadi ikon negara berskala nasional yang telah diakui dunia, sehingga semua pihak wajib mengawal perkembangannya.

"Ada keindahan, keanggunan, dan komitmen untuk bercerita tentang kekayaan budaya kita lewat alur ulasannya,“ jelasnya melalui keterangan tertulis, Selasa (3/12/2019).

Menurutnya, ada proses idealisme dalam membatik sebagai keagungan budaya bangsa Indonesia. Inilah legacy untuk generasi ke depan. "Untuk itu, kami menghadirkan suatu trasformasi yaitu mengajak kaum millenial yang budayanya adalah serba instan, dapat tetap turut membatik dengan menggunakan kompor listrik dalam penggunaan dengan cantingnya yang efisiensinya bisa mencapai 63%,“ ujarnya.

Dalam acara tersebut akan ada dua sharing session. Pertama, untuk kalangan milenial di mana adanya transformasi dalam membatik, dan kedua tentang bagaimana membawa batik ke pasar global.

Batik sebagai jembatan komunikasi yang dipilih, menurut pemilik Gallery Amandari Batik, Uti Rahardjo, karena sudah melekat pada semua kalangan, sebutlah sosialita, pengusaha, pemerhati budaya maupun fashionpreneur dengan jaringan internasional. "Untuk itu kami mengundang mereka, yang concern dengan batik, dan fashionpreneur yang konsen dengan batik dan sudah berpengalaman di beberapa negara," ungkapnya.

Batik memiliki tiga unsur yang terangkum dalam tema besar acara tersebut, yakni legacy, investment, dan diplomacy.

Tidak hanya hasil budaya, tetapi dari hasil proses pembuatannya, batik juga harus bisa berinovasi dan bertransformasi sehingga bisa terus dilestarikan. 

Dinamika dunia ini berubah sungguh cepat, di mana harus ada adaptasi yang harus dilakukan, sehingga bisa sesuai dengan zamannya. Tetapi, dia juga tidak ingin batik sekadar printing, karena masih ada idealisme batik itu harus dibatik secara tradisional. "PLN memiliki visi dan misi yang ingin memelihara legacy. Legacy-nya PLN adalah membuat sesuatu lebih praktis, bersih, dan aman," kata Uti.

Maka dari itu,  alternatif atau transformasinya adalah membatik menggunakan dengan kompor listrik yang sepaket dengan canting listrik (elektrik). PLN memiliki alat inovasi membatik ini. Dan, terkait dengan canting elektrik ini, kelebihannya adalah pengrajin atau pembatik tidak perlu lagi untuk meniup cucuk canting sebelum menggoreskan motif. Alhasil, proses dalam pembuatan pola lebih cepat selesai.

Artinya, dengan alat yang inovatif tersebut, pengrajin tidak perlu lagi sibuk untuk mengecek tingkat panasnya. Sehingga pengrajin bisa lebih fokus membuat batik. "Kalau lebih fokus, harapannya proses pembatikan bisa lebih cepat, dan secara ekonomis lebih naik," ujarnya.

Batik dari segi investasi memiliki nilai cukup tinggi. Karena sebuah batik yang unik, seperti sebuah lukisan yang hanya ada satu di dunia, sebagai collectible investment.

Sebagai investasi lain, sekarang semua orang sudah mencintai batik, bahkan sudah banyak desainer luar memakai bahan batik sebagai bahan dasar desain mereka. Di era digital seperti sekarang, pembatik bisa lebih mudah untuk bisa memasarkan batiknya ke luar negeri. "Jadi investasi di sini juga market-nya semakin luas," terang Uti. 

Tidak hanya itu, target lainnya yakni berkomunikasi dengan SEC: high end. “Karena PLN identik dengan kredibilitas tinggi dengan high end & international network di mana pemasaran PLN ke depan sebaiknya menyasar pada pengambil keputusan di korporasi yang ada pada SEC ini,” terang Uti.

Batik Amandari sendiri, akan tetap menjalin kerja sama dengan PLN. "Kami sebagai pengusaha juga memiliki kepedulian terhadap masyarakat yang ingin merepresentasi. Di zaman sekarang ini, tidak ada yang bisa melakukan sendirian, harus ada kerjasama  dan kolaborasi atau yang dikenal sebagai collaborative intelligent. Jadi semua keahlian yang ada masyarakat bisa kita satukan untuk mengusahakan suatu kemajuan yang lebih baik," pungkasnya. kbc7

Bagikan artikel ini: