Kemenperin: IKM di Tanggulangin jadi industri prioritas nasional

Kamis, 5 Desember 2019 | 21:49 WIB ET
Direktur Industri Kecil, Menengah dan Aneka Kemenperin, Gati Wibawaningsih (tengah) saat melihat produk IKM Tanggulangin, Sidoarjo.
Direktur Industri Kecil, Menengah dan Aneka Kemenperin, Gati Wibawaningsih (tengah) saat melihat produk IKM Tanggulangin, Sidoarjo.

SIDOARJO, kabarbisnis.com: Pemerintah melalui Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus mendorong industri kecil menengah (IKM) untuk memiliki daya saing di pasar lokal maupun global.

Salah satu sentra IKM yang dinilai memiliki pottensi untuk terus dikembangkan adalah industri kulit dan produk turunannya di kawasan Tanggulangin, Sidoarjo.

Hal itu diungkapkan Direktur Industri Kecil, Menengah dan Aneka Kemenperin, Gati Wibawaningsih di sela acara Business Matching IKM Tanggulangin di Balai Pengembangan Industri Persepatuan Indonesia, Komplek Pasar Wisata Tanggulangin, Sidoarjo, Kamis (5/12/2019).

"Industri kulit, alas kaki dan barang jadi kulit di Tanggulangin ini merupakan salah satu sektor industri prioritas yang mampu memberikan kontribusi yang cukup besar terhadap perekonomian nasional," jelasnya.

Gati menyebut, kinerja ekspor pada sektor ini di periode Januari sampai dengan Oktober 2019 mencapai US$4,2 miliar dengan negara tujuan ekspor utama antara lain Amerika Serikat, Belgia, Jerman, Inggris, dan Jepang.

Menurut Gati, industri kulit, alas kaki dan barang jadi kulit memiliki potensi besar untuk dikembangkan. Hal ini karena kekuatan yang dimiliki oleh Indonesia adalah keberagaman dan kreativitas pelaku IKM.

"Produk Indonesia memiliki potensi daya saing yang cukup tinggi di pasar domestik dan internasional, satu diantaranya seperti sentra IKM di Tanggulangin ini," tambahnya.

Sebagai upaya untuk terus mengembangkan IKM tersebut, Kementerian Perindustrian melalui Direktorat Jenderal Industri Kecil Menengah dan Aneka, menyelenggarakan Business Matching IKM Tanggulangin.

Kegiatan ini bertujuan untuk mempertemukan para IKM produk kulit binaan Ditjen IKMA dengan potential buyers yang terdiri dari para pelaku usaha, pemilik travel haji dan umroh, pemilik perusahaan perjalanan wisata, enterpreneur muda, serta mahasiswa dari fakultas bisnis dari berbagai universitas di Surabaya. 

Di tahun ini, Kementerian Perindustrian lebih berfokus pada pendampingan yang berbasis peningkatan kapasitas dan kompetensi untuk IKM Tanggulangin.

Ditambahkan Gati, pada tahun 2019 program Revitalisasi Sentra IKM Tanggulangin disiapkan untuk dapat menjangkau pasar yang lebih luas. Pihaknya melakukan upscaling untuk memperbaiki kualitas produk, manajemen bisnis dan strategi marketing, termasuk digital marketing yang sesuai dengan perkembangan bisnis saat ini.

“Kami juga memberikan fasilitasi pembuatan marketing tools dan memberikan workshop untuk persiapan para IKM pada acara business matching hari ini sehingga dapat terjadi trasaksi bisnis dengan potential buyers," ungkapnya.

Gati bilang, langkah itu untuk mempersiapkan SDM di Sentra IKM Tanggulangin agar tidak hanya mampu memproduksi produk kulit yang berkualitas, tetapi juga memiliki daya saing dalam pengembangan bisnis sehingga dapat memiliki bisnis yang berkelanjutan di era digital yang dinamis saat ini.

Terkait Revitalisasi Sentra IKM Tanggulangin. Gati menjelaskan, hal itu telah digagas sejak tahun 2017 dengan mengedepankan sinergi dan kolaborasi antara Kementerian Perindustrian dan berbagai stakeholders terkait di Kabupaten Sidoarjo untuk menyusun Roadmap Revitalisasi Sentra IKM Tanggulangin. 

“Tahun lalu, kami bekerja sama dengan stakeholders terkait untuk menyelenggarakan event yang bertajuk Rebranding Sentra IKM Tanggulangin, diantaranya adalah pemecahan rekor MURI untuk pembuatan mural single line art terpanjang di Gedung INTAKO yang melibatkan lebih dari 700 peserta, kompetisi desain logo dan tagline Rebranding Sentra IKM Tanggulangin, kompetisi jurnalistik serta launching Sentra IKM Tanggulangin sebagai Sentra Wisata 3 in 1 yaitu Sentra Wisata Edukasi Industri, Wisata Belanja, dan Wisata Budaya," pungkasnya.

Sekadar diketahui, Sentra IKM Tanggulangin sudah berdiri pada 1939 yang pada awalnya hanya terdiri dari beberapa perajin yang membuat berbagai jenis produk tas dan koper. Di masa jayanya, sentra industri tersebut memiliki 354 perajin dengan aset senilai Rp 10 miliar milik Koperasi Industri Tas dan Koper (INTAKO).

Masa-masa kejayaan Sentra IKM Tanggulangin menurun akibat bencana semburan lumpur Lapindo di daerah Porong, Sidoarjo. Dampak bencana tersebut adalah penurunan jumlah pengunjung yang datang ke sentra industri sehingga sebagian besar perajin di Sentra IKM Tanggulangin terpaksa harus menghentikan produksinya. Meski demikian, geliat industri tas dan koper di Tanggulangin masih tetap berjalan dan perlu untuk diperkenalkan kembali kepada masyarakat dengan wajah baru yang lebih baik. kbc7

Bagikan artikel ini: