Bappenas: BULOG berpeluang pasok 20% beras fortifikasi bagi BPNT

Kamis, 12 Desember 2019 | 11:03 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Guna mengatasi angka stunting (kerdil red) dan anemia, pemerintah berkomitmen mengembangkan beras fortifikasi diperkaya mikronutrien delapan unsur vitamin, zat besi dan seng (Zn). Atas hal ini. Perum BULOG berpeluang mengisi 20 % kebutuhan beras fortifikasi.

Direktur Pangan dan Pertanian Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Thariq Modanggu menuturkan keseriusan pengembanganan fortifikasi beras ini sudah menjadi program pembangunan nasional . Hal itu tertuang dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2019-2024 yang bertumpu kepada peningkatan peningkatan sumber daya manusia (SDM) dengan memprioritaskan intervensi gizi.

Dari sisi on farm pertanian,menurut Thariq mulai tahun depan  melakukan penanaman benih padi bio fortikasi. Benih yang digunakan varietas Inpari Nutr Zinc seluas  10.000 hektare (ha) .

Karenanya , dipastikan pengembangan  padi bio fortifikasi bukan sebatas slogan.Pengembangan varietas benih padi Inpari Nutri Zinc mulai dirintis di Balai Besar Padi di Sukamandi ,Subang .Jawa Barat. "Programnya sudah dicanangkan Ditjen Tanaman Pangan Kementerian Pertanian," ujar Thariq dalam seminar di Jakarta, Rabu (11/12/2019).

Selain di sektor on farm, sambung Thariq pemerintah juga mendorong fortifikasi pangan. Bappenas merekomendasikan Perum BULOG dapat menyalurkan beras yang diolah melalui proses pengolahan dengan pemberian nutrisi delapan  vitamin ,seng dan zat besi .

Menurutnya pemenuhan kebutuhan pangan bukan semata mata berorientasi peningkatan produksi beras .Program di masing masing kementerian bergeser menjadi peningkatan konsumsi dan penyediaan dan perbaikan pola nutrisi masyarakat di 100 kabupaten yang masyarakatnya masih mengalami rawan pangan.

Direktur Pengembangan Bisnis dan Investasi BULOG Imam Subowo mengatakan pihaknya menargetkan penyaluran 10%-20% beras fortifikasi dalam program Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT). Menurut Imam penyaluran beras berforrifikasi ditujukan di daerah dengan potensi stunting, namun tetap terbuka  dijual secara komersial. 

Nantinya, beras fortifikasi tersebut ditargetkan mencapai 100% di program BPNT 2024. Ini artinya, BULOG menargetkan penyaluran beras fortifikasi melalui BPNT sekitar 150.000-300.000 ton dari total penyaluran beras BPNT 1,5 juta ton.

Namun, besaran penyaluran beras tersebut akan bergantung dari arahan Bappenas. "Bappenas sudah menargetkan 20% beras fortivikasi di BPNT. Kalau nanti semuanya sepakat pusat minimal 20% bagi saya lebih gampang. Itu yang saya tunggu," kata Imam 

Data Kementerian Kesehatan, total daerah stunting di Indonesia saat ini mencapai 260 kabupaten/kota dari total 514 kabupaten/kota. Provinsi dengan prevalensi stunting terbesar berada di wilayah timur Indonesia seperti Papua, Papua Barat, Sulawesi Barat, dan Nusa Tenggara Timur. 

Untuk tahap awal, beras fortifikasi BULOG bakal disalurkan ke 100 kabupaten. Selain untuk daerah potensi stunting, beras tersebut juga disalurkan ke daerah yang memiliki minat terhadap beras bervitamin, seperti kabupaten Dompu, Kulonprogo, dan Gorontalo. "Penjualan menggunakan skema komersial," terangnya.

Wakil Direktur Utama BULOG Gatot Trihargo menyatakan dalam penyaluran beras sehat tersebut, pihaknya siap bekerjasama dengan semua pihak, baik dengan pemerintah pusat maupun daerah. Hal ini guna menyediakan tambahan gizi bagi masyarakat. "Bulog telah berinovasi dengan menyiapkan beras fortifikasi yang dapat disalurkan kepada masyarakat berpendapatan rendah," ujar dia. 

Beras bermerek Fortivit itu tidak perlu dicuci lagi. Harga beras Fortivit tersebut diperkirakan sebesar Rp 14.000 per kilogram (kg) untuk jenis medium dan Rp 15.000 per kg untuk beras premium. Namun, harga tersebut dapat turun bila diproduksi massal.kbc11

Bagikan artikel ini: