Pacu produksi gula dengan perluasan lahan tebu

Jum'at, 13 Desember 2019 | 08:06 WIB ET

SURABAYA, kabarbisnis.com: Keinginan pemerintah untuk membangun swasembada gula nasional terus digelorakan. Sejumlah kebijakan juga telah diterapkan demi tercapainya cita-cita tersebut, salah satunya melalui perluasan lahan tebu di sejumlah daerah.

Ketua Ikatan Ahli Gula Indonesia (IKAGI) Dwi Satriyo Annurogo mengatakan bahwa ada sejumlah  persoalan krusial yang tengah dialami oleh industri pergulaan nasional sehingga produksi gula sulot digenjot. Salah satunya adalah kian menyusutnya lahan tebu di sejumlah wilayah.

“Karena dari tren yang ada, lahan tebu semakin menyusut, berkurang. Bisa karena kompetitifnes atau karena lahan tebu berada di area premium, lahan pemukiman. Di wilayah Jawa Timur misalnya, dimana kontribusinya mencapai 49 persen terhadap produksi gula nasional, trennya juga menunjukkan penurunan. Dan jika Jatim menurun, turun nasional pasti turun.,” ujar Dwi saat usai membuka acara National Sugar Summit (NSS) 2019 di Ballroom Convex Grand City Surabaya, Kamis (12/12/2019).

Data Ikagi menunjukkan, dalam kurun waktu lima tahun, lahan tebu di Jatim turun sebesar 27 ribu hektar. Pada tahun  2015 luasan lahan tebu Jatim mencapai 202 ribu hektar, sementara pada tahun ini hanya tinggal 175 ribu. Di Sidoarjo misalnya, dahulu banyak Pabrik Gula tetapi sekarang banyak yang tidak beroperasi karena sekarang banyak lahan yang digunakan untuk pemukiman. Selain karena lahan berada di lokasi premium, kondisi itu juga karena komoditas tebu tidak memiliki daya saing tinggi dibanding komoditas lain.

“Di daerah tersebut komoditas lain lebih menarik. Sehingga lahan yang kurang ini harus dicari penggantinya dengan menggali potensi lahan yang baru. Hal ini bisa dilakukan melalui kerjasama dengan perhutani, dengan pemda atau dengan perusahaan. Lahan nganggur milik mereka kita olah dan kita tanami tebu,” tambah Dwi.

Di PTPN X misalnya, hasil kerjasama dengan Perhutani mendapatkan lahan yang bisa ditanami seluas 5661,5 hektar yang berada di Jombang, Bojonegoro, Nganjuk dan Blitar. “Ini akan kami lakukan secara bertahap dan sampai saat ini sudah ada 423 hektar lahan yang telah kami tanai,” tambah Dwi yang juga menjabat sebagai Direktur Utama PTPN X tersebut.

Dwi juga mengatakan bahwa tantangan yang dihadapi industri gula kian dinamis. Industri gula nasional dihadapkan pada permasalahan-permasalahan terkait pengembangan industri gula (baik di sisi on farm, off farm, maupun diversifikasi), biaya produksi, dan lain-lain. 

"Sehingga, kita akan bersama-sama merumuskan solusi terbaik untuk setiap permasalahan tersebut,” ungkapnya

Senada dengan Dwi, Direktur Eksekutif Asosiasi Gula Indonesia Budi Hidayat, ia mengatakan bahwa saat ini industri gula nasional menghadapi berbagai tantangan, salah satunya berkaitan dengan kuantitas dan kualitas gula. Di sisi kuantitas, produksi gula baru mencapai 2,2  juta ton atau sekitar 38 persen dari total kebutuhan yang mencapai 5,7 juta ton. Sedangkan di sisi kualitas, pelaku industri gula nasional dituntut melakukan perbaikan kualitas gula sehingga bisa memenuhi syarat yang dibutuhkan berbagai kalangan pengguna gula. .

"Sesuai roadmap gula tahun 2014-2019, produksi gula diproyeksikan meningkat secara bertahap untuk bisa memenuhi semua kebutuhan gula nasional. Namun, pada tahun ini produksi gula belum ada peningkatan yang signifikan," ujarnya.

Untuk itulah, melalui NSS 2019, para pelaku industri gula akan merumuskan solusi dengan beberapa poin penting diantaranya penyusunan kembali peta jalan pengembangan industri gula  nasional  disertai  instrumen  pendukungnya  yang  kondusif, lintas sektoral  dan  terintegrasi, terutama menyangkut aspek produksi, distribusi, kelembagaan, pendanaan dan hilirisasi. 

Selain itu perlu adanya kemudahan pendanaan dari perbankan, penyediaan teknologi budidaya, penyediaan pupuk dan benih tebu unggul, bantuan bongkar ratoon,  penyuluhan, perbaikan infrastruktur jalan, jembatan dan saluran irigasi untuk mendukung pengembangan tebu rakyat. “Harapannya, seluruh pelaku industri gula saling bersinergi untuk bersama-sama memajukan industri gula nasional,” pungkas  Dwi.kbc6

Bagikan artikel ini: