BI: Inflasi Jatim sampai akhir tahun di bawah 3 persen

Jum'at, 13 Desember 2019 | 16:02 WIB ET

SURABAYA, kabarbisnis.com: Kepala Bank Indonesia Kantor Perwakilan Jawa Timur, A Difi Johansyah menyatakan bahwa kondisi ekonomi Jatim pada tahun ini cukup kondusif. Tidak ada gejolak harga yang signifikan sehingga mengganggu laju pertumbuhannya. Hingga akhir tahun, ia memproyeksikan angka inflasi jatim akan berada di bawah 3 persen.

"Ini adalah pencapaian yang sangat baik. Bahkan terbaik se Jawa dan dalam sejarah pencapaian inflasi paling rendah tetapi kita tetap harus waspada karena di akhir tahun ada nataru danliburan. Untuk itu, kami melakukan pengecekan semuanya, listrik, BBM, beras. Dan alhamdulillah semua terkontrol. Optimis inflasi akan dibawah nasional, perkiraan 2,6 persen," ujar Difi saat acara High Level Meeting (HLM) dan Rapat Koordinasi Wilayah (Rakorwil) TPID Provinsi Jawa Timur di Surabaya pada Kamis  (12/12/2019).

Lebih lanjut ia mengatakan bahwa TPID Provinsi Jawa Timur berhasil mengawal inflasi Jawa Timur tumbuh rendah. Tercatat inflasi IHK November 2019 sebesar 2,20 persen (yoy) atau 1,59 persen (ytd), lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 2,95 persen (yoy) atau 2,24 persen (ytd), serta lebih rendah dibanding nasional dan menjadi yang terendah di kawasan Jawa. 

“Pentingnya menanamkan ekspektasi inflasi yang rendah ke depan, sehingga dapat dijadikan acuan oleh pengusaha dan masyarakat. Jatim sudah punya modal tersebut. Dengan inflasi yang rendah dan stabil, maka kerja pemerintah dapat lebih fokus  pada peningkatan pertumbuhan ekonomi," katanya.

        

Meski demikian, Difi tetap mengimbau tetap waspada di akhir tahun karena ada Natal, Tahun Baru dan Liburan. Menurutnya, potensi risiko inflasi ke depan, pada HBKN Natal 2019 & Tahun Baru 2020, secara historis umumnya berada pada kelompok volatile food, yaitu daging ayam ras, telur ayam ras, beras, serta komoditas bumbu-bumbuan (bawang merah, bawang putih dan cabe merah). 

Selain itu kenaikan cukai rokok oleh Pemerintah mulai Januari 2020 akan mendorong kenaikan inflasi administered price. Sehingga pada Desember 2019, inflasi diperkirakan berada pada batas bawah sasaran inflasi 3,5+1 persen (yoy), yakni di kisaran 2,5 persen - 2,9 persen (yoy). 

“Jika realisasi inflasi akhir tahun mencapai angka tersebut, maka Jawa Timur akan mencatat prestasi dalam sejarah yaitu di bawah 3%” imbuh Difi.

        

Lebih lanjut Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mengatakan bahwa menjelang nataru, stok sejumlah kebutuhan pokok terpantau aman.  Mulai dari stok beras, BBM hingga listrik aman dan terkendali. "Saya ingin menyampaikan kepada seluruh masyarakat Jatim bahwa stok aman dan tidak ada gejolak," kata Khofifah.

Lebih lanjut ia menyampaikan bahwa berbagai upaya pengendalian inflasi melalui TPID Jawa Timur berbasis strategi 4K (Keterjangkauan Harga, Ketersediaan Pasokan, Kelancaran Distribusi, Komunikasi Efektif) telah dilakukan selama tahun 2019. Namun terdapat beberapa pelajaran penting dalam dinamika inflasi selama tahun 2019, antara lain fakta bahwa inflasi volatile food masih menjadi tantangan di tahun ini. 

Beberapa komoditas yang masih mengalami inflasi yang lebih tinggi dibandingkan 2018 adalah komoditas hortikultura seperti cabai rawit, cabai merah, bawang merah dan bawang putih. Namun di sisi lain, dampak seasonal terhadap inflasi volatile food semakin mengecil. "Hal ini mengindikasikan pola tanam, distribusi dan mekanisme pembentukan harga yang semakin baik," katanya. 

Sementara itu, inflasi administered priced yang masih tinggi mempengaruhi tingginya inflasi IHK di 8 kabupaten/ Kota di Jawa Timur. Oleh karena itu, penetapan kebijakan kenaikan tarif oleh Pemerintah baik Pusat dan Daerah perlu dipertimbangkan secara berhati-hati dengan besaran kenaikan yang terukur.

        

Rendahnya perkiraan inflasi Jawa Timur 2019, tidak bermakna buruk karena masih nampak adanya pengaruh positif terhadap daya beli riil masyarakat. Inflasi yang rendah juga terindikasi berpengaruh positif terhadap peningkatan kesejahteraan produsen, Petani dan Nelayan. Hal tersebut tercermin dari nilai NTP (Nilai Tukar Petani) dan NTN (Nilai Tukar Nelayan) yang mengindikasikan bahwa petani dan nelayan Jawa Timur secara umum masih mengalami surplus. 

        

Meskipun inflasi di Jawa Timur tercatat pada level yang rendah, namun masih terdapat disparitas harga antar daerah yang masih tinggi untuk beberapa komoditas strategis pangan nasional, yang memiliki perbedaan harga antar daerah yang masih relatif tinggi. Faktor utama yang berperan mendorong perbedaan harga tersebut antara lain transportasi, infrastruktur dan pergudangan. 

Oleh sebab itu, disparitas harga yang terjadi dapat diminimalkan diantaranya melalui penguatan supply chain management atau manajemen rantai pasok komoditas bahan pokok dan integrasi logistik. Melalui Pembangunan Pusat Distribusi Provinsi/Regional (PDP/R) yang terintegrasi dengan sistem informasi (IT) bisa menjadi tools yang efektif mengatasi kelangkaan pasokan, tingginya disparitas dan besarnya fluktuasi harga komoditas bahan pokok. kbc6

Bagikan artikel ini: