Impor barang konsumsi melonjak menjelang Nataru

Selasa, 17 Desember 2019 | 09:38 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat nilai impor barang ke Indonesia pada November 2019 meningkat 3,94% menjadi US$15,34 miliar dibandingkan Oktober 2019.

Kepala BPS Suhariyanto mengatakan, peningkatan impor pada November 2019 salah satunya disebabkan peningkatan impor barang konsumsi. Impor barang konsumsi pada November 2019 meningkat sebesar 16,13% dibanding Oktober 2019.

Namun jika dibandingkan dengan November tahun lalu, ada peningkatan sebesar 16,28% yoy.

"Biasanya akan banyak kebutuhan konsumsi yang dibutuhkan pada bulan Desember karena adanya liburan sekolah dan menjelang Natal serta Tahun Baru (Nataru)," kata Suhariyanto di Jakarta, Senin (16/12/2019).

Suhariyanto pun mengungkapkan bahwa pola ini cukup berbeda dari November tahun lalu yang mencatat penurunan dari bulan Oktober 2018.

Selain itu, Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Yunita Rusanti juga mengonfirmasi kepada Kontan.co.id bahwa peningkatan impor pada bulan tersebut juga disebabkan oleh lebih banyaknya hari libur di bulan Desember sehingga kegiatan impor akhirnya dilakukan pada bulan November.

Beberapa barang konsumsi yang mengalami peningkatan pada November 2019 antara lain buah-buahan musiman seperti apel dan jeruk mandarin yang diimpor dari China dan white palm sugar yang diimpor dari Thailand.

Sementara itu, peningkatan impor juga terjadi pada bahan baku, yaitu 2,64% mom. Meski begitu, bila dibandingkan secara year on year, terjadi penurunan 13,23%.

Peningkatan pada bulan November 2019 ini didorong juga oleh peningkatan impor emas dari Hongkong dan Singapura serta impor gandum dari Ukraina dan Kanada, serta barang baku lainnya.

Impor barang modal pun juga tercatat naik 2,58% mom meski bila dibandingkan dengan November 2018 tercatat turun 3,55% yoy. Peningkatan terjadi pada impor notebook dan komputer dari China, juga transportation crane dan peralatan radio yang diimpor dari Perancis dan Amerika Serikat (AS).

"Sementara itu, komposisi impor tetap tidak berubah, yaitu masih 72,8% dari bahan baku atau penolong, 16,33% dari barang modal, dan 10,87% dari barang konsumsi," ujar Suhariyanto. kbc10

Bagikan artikel ini: