Menjamurnya bisnis kopi kekinian belum angkat produksi kopi petani

Rabu, 18 Desember 2019 | 10:03 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Menjamurnya bisnis kopi kekinian di sejumlah daerah di Tanah Air ternyata belum mampu mendongkrak penyerapan atau produksi kopi dari petani lokal.

Alasannya, konsentrasi petani untuk menghasilkan produk kopi berkualitas berkurang.

Hal itu diungkapkan Ketua Specialty Coffee Association of Indonesia (SCAI) Syafrudin di Jakarta, Selasa (17/12/2019).

"Artinya bukan berarti kopi kekinian itu jelek, tapi seharusnya seperti yang saya katakan, kita ambil contoh di Brasil. Di sana itu, antara produksi, kualitas, dan konsumsi kopi lokal bisa berjalan beriringan," katanya.

Dia menyebutkan, konsumsi kopi lokal di Brasil mencapai 46 persen. Sementara di Indonesia baru sekitar 30 persen. "Di sana petani juga konsisten hasilkan kopi berkualitas dan baik. Baik kopi yg dikonsumsi lokal maupun ekspor," kata dia.

Asosiasi, lanjutnya, selama ini merangkul petani supaya tetap memproduksi kopi berkualitas baik. Dengan begitu tidak masalah bila menjual kopi ke industri lokal.

"Artinya harus cari nilai tambah Misalnya menanam tanaman lain, sehingga ada tambahan penghasilan seperti cabe, tomat, kentang. Seperti di Gayo, mereka tanam alpukat yang sangat istimewa di sela tanaman kopi. Itu nilai tambah bagi petani meskipun kopi bisnis utamanya," tutur dia.

Meski begitu, ujar Syafrudin, tumbuhnya industri kopi kekinian juga memiliki dampak positif. Di antaranya menciptakan lapangan pekerjaan dan menyejahterakan beberapa petani.

Ia mengimbau, pelaku Industri kopi kekinian harus memikirkan keberlangsungan usahanya. Misal dalam memilih tempat, jangan hanya melihat kondisinya yang ramai.

"Tempat ramai belum tentu profit. Hanya saja, tempat yang biasa-biasa saja tapi sudah melalui market research bisa hasilkan profit. Misal, di satu tempat itu banyak anak muda, ada sekolah juga," tegas Syafrudin.

Dirinya berharap, pelaku industri kopi kekinian tidak hanya ikut-ikutan. "Jangan sampai tahun ini buka, tahun depan tutup," kata dia. 

Sebagai informasi, perusahaan penyedia barang dan jasa di industri Hotel Restoran dan kafe (Horeka) yakni Toffin Indonesia bersama Majalah MIX MarComm SWA Media Group dalam risetnya mencatat, jumlah kedai kopi di Tanah Air pada Agustus 2019 mencapai lebih dari 2.950 gerai. Angka itu meningkat hampir tiga kali lipat dibandingkan pada 2016 yang hanya sekitar 1000. kbc10

Bagikan artikel ini: