Ini penyebab industri baja lokal sulit bersaing dengan impor

Rabu, 18 Desember 2019 | 19:43 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Industri baja dalam negeri memiliki sejumlah tantangan besar yang membuat produknya sulit bersaing dari produk sejenis yang berasal dari impor. Tantangan pertama terkait lingkungan dan terkait  tata niaganya .

Dirjen Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi dan Elektronika Kementerian Perindustrian (ILMATE Kemenperin) Harjanto mengungkapkan, slag limbah industri baja masih dikategorikan sebagai limbah B3. Padahal, based practice-nya seperti Basel Convention ada puluhan negara yang tidak mengklasifikasikan limbah baja sebagai limbah B3.

"Kalo kita lihat Basel Convention, 10 negara lain tidak menyebut sebagai limbah b3. Ini dipakai untuk bahan bangunan, seperti pupuk dan semen," kata Harjanto di Jakarta, Rabu (18/2/2019).

Masalah lainnya, kata Harjanto  baja industri dalam negeri bahan bakunya masih impor. Efeknya, jika ada oli sedikit dilategorikan B3. "Gimana mau bersaing, ini kan cost semua buat industri. Masalah lingkungan ini yang sulit. Jadi ada tiga masalah besar di samping tata niaga," ujarnya.

Padahal, menurut Harjanto pabrik baja prosesnya harus terintegrasi. Namun faktanya, pabrik baja sekarang sulit untuk dikelola secara efisien, salah satu sebabnya mahalnya harga gas. Menurutnya, Krakatau Steel (KS) dulunya punya dapur menggunakan gas, namun ketika gas mahal, dapur tersebut menggunakan listrik. Sehingga, impor slab tidak dapat dihindarkan.

"Mau digiring panasin dulu, jadi ini ada cost. Jadi tidak integrasi, cost mahal, bagaimana mau bersaing dengan baja impor. Kalo energinya bisa diperbarui, industrinya akan efisien lagi. Ujungnya harga baja akan turun. Ini masalah internal," jelasnya.

Selain itu, tantangan lainnya, pabrik baja di Indonesia masih fokus pada manufakturnya saja. Padahal, pabrik baja di Eropa misalnya sudah mulai mengembangkan R and D-nya.

"Belgia misalnya ada 600 pekerja R and D yang hanya memikirkan bagaimana men-development kawat. Jadi, proses manufakturingnya tidak dibikin di sana. Misalnya di Indonesia, tapi paten dan R and D di sana. Mungkin di sana katanya untuk kawat peternakan, keperluan kedokteran. Industri kita hanya di manufaktur saja. Tidak bicara R and D. Jadi bisa lari ke branding atau ke inovasi dengan adanya R and D," pungkasnya.kbc11

Bagikan artikel ini: