ALFI: Digitalisasi pelayaran tekan mahalnya biaya logistik di Tanah Air

Minggu, 22 Desember 2019 | 08:11 WIB ET

SURABAYA, kabarbisnis.com: Wakil Ketua Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) Jatim, Arief Tejo menegaskan bahwa digitalisasi pelayaran akan berdampak positif terhadap penurunan biaya logistik di Indonesia. 

"Saat ini, biaya logistik di tanah air mencapai sekitar 24 persen dari total GDP. Ini sangat tinggi dibanding dengan negara lain seperti Singapura dan Malaysia yang rata-rata hanya mendekati 10 persen. Dan kita harus cepat mengejarnya dengan melakukan digitalisasi logistik agar sa atau minimal bisa mengurangi biaya logistik di tanah air," terang Arief saat Forum General Discussion (FGD) yang dilaksanakan di Surabaya, Jumat (20/12/2019).

Lebih lanjut ia mengatakan bahwa melalui digitalisasi pelayaran, semuanya akan menjadi lebih efisien, transparan dan pasti. Efisien dari segi waktu, tenaga dan pikiran. Selain juga sangat efektif dalam hal dokumentasi, booking secara online dan bagaimana mendapatkan kapal sesuai kebutuhan serta bagaimana mendapatkan slot atau tempat di dalam kapal. "Semuanya menjadi lebih jelas, tidak seperti sebelumnya yang serba tidak jelas," tegasnya. 

Namun tidak semua pelaku usaha paham dan mau melakukannya. Banyak juga pengusaha pelayanan yang enggan dna belum melaksanakan digitalisasi pelayanan. Dalam hal ini, Arief menegaskan bahwa ada dua upaya yang bisa dilakukan demi percepatan digitalisasi pelayanan. 

Pertama adalah penyadaran kepada pengusaha pelayanan bahwa digitalisasi pelayaran mutlak harus dilakukan sesuai dengan pertumbuhan ekonomi dan teknologi kedepan. Kedua, harus ada ketentuan atau kebijakan pemerintah yang mengharuskan mereka dengan cepat melaksanakannya.

Strategic Development and Implementation Manager SPIL, Ferna Arga Wijaya mengatakan bahwa sejauh ini PT SPIL telah melaksanakan digitalisasi pelayaran melalui aplikasi  mySPIL. "Pengembangan teknologi dalam dunia pelayaran ini bukan hanya untuk tuntutan zaman tapi juga untuk menjaga industri selalu kompetitif dan lebih efisien," katanya.

Dia mengatakan pada 2017, SPIL mengembangkan fitur termasuk menghadirkan aplikasi untuk Android, iOs dan website untuk memudahkan para pengguna jasa pelayaran. Dari total pelanggan SPIL yang ada saat ini, sudah sekitar 80 persen yang menggunakan aplikasi mySPIL.

"Sampai saat ini MySPIL sudah bermanfaat untuk kepastian jadwal, kemudahan melihat harga dari e-contract, e-SI dan e-Invoice yang membuat dokumen lebih cepat, serta ada track and trace untuk posisi dan status pengiriman barang," jelasnya.

Sementara itu, Ketua Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) Surabaya Muhammad Luthfy mengatakan bahwa pada tahun 2020 pemerintah akan menerapkan Inaport.net dan saat ini telah dilaksanakan di 16 pelabuhan. "Itu nanti akan inline dengan program. Kami berharap keuntungannya dari aplikasi ini," pungkasnya.kbc6

Bagikan artikel ini: