Defisit melebar, impor daging sapi berpotensi alami peningkatan

Rabu, 25 Desember 2019 | 18:51 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Bertumbuhnya populasi penduduk khususnya kelas menengah menjadi alasan pemerintah menaikkan kebutuhan daging sapi nasional di tahun ini.

Direktur Kesehatan Masyarakat Veteriner Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) Kementan Syamsul Maarif mengatakan kebutuhan daging nasional tahun 2020 diprediksi mencapai 717.150 ton. Sementara, kebutuhan daging sapi nasional tahun 2019 ini baru sebesar 688.271 ton.

Kenaikan konsumsi itu mengacu prognosis kebaikan konsumsi per kapita dari 2,56 kilogram (kg) menjadi 2,66 kg serta peningkatan populasi dari 267 juta jiwa menjadi 269 juta jiwa.Namun perkiraan kenaikan kebutuhan daging sapi tahun depan itu belum diimbangi kenaikan produksi daging sapi lokal .

Apabila produksi daging sapi tahun 2019 ini sebesar 404.590 ton dan di tahun depan baru naik 422.533 ton.Ketidakseimbangan neraca daging sapi menyebabkan defisit volume impor daging sapi untuk guna menuju kebutuhan pun semakin melebar.

Syamsul menjelaskan pelebaran defisiti itu salah satunya disebabkan belum mampunya pengusaha lokal maupun peternak rakyat untuk mengikuti kebutuhan industri hotel, restoran, dan katering (horeka). Berbicara mengenai kebutuhan industri horeka, ia mengakui bahwa pemenuhannya tidak bisa dilakukan secara asal. Sementara kemampuan peningkatan produksi dalam negeri belum bisa dipacu mengimbangi kebutuhan, maka pemerintah harus menambah impor.

"Kebutuhan ini menyangkut industri horeka. Manajemen mereka itu kan tidak bisa asal-asalan karena mereka harus memenuhi kebutuhan konsumennya," kata Syamsul di Jakarta, baru-baru ini.

Kendati demikian, Syamsul mengatakan pnc d jual n Kementan tidak tinggal diam melihat kemampuan produksi dalam negeri yang kalah cepat dari kenaikan konsumsi. Pihaknya telah menyiapkan beberapa program sesuai arahan Menteri Pertanian agar ke depan kapasitas pengusaha ternak lokal terus meningkat.

Syamsul menambahkan meskipun alokasi impor tahun depan meningkat, belum tentu juga realisasi akan sesuai dengan kuota. Sebab, prognosis pemerintah bisa meleset, ditambah adanya kemungkinan pertumbuhan produksi yang lebih tinggi dari perkiraan.

Kepala Sub Direktorat Perlindungan Hewan, Boedhy Angkasa menambahkan prognosis kebutuhan dan impor berdasarkan acuan data dari Badan Pusat Statistik (BPS). Konsumsi bakal meningkat karena selain adanya penambahan jumlah penduduk, pertumbuhan ekonomi yang diyakini bakal mengalami kenaikan.

Sebab itu, Rapat Koordinasi Terbatas (Rakortas) level Kemenko Perekonomian memutuskan untuk menaikkan alokasi impor. Terutama, untuk sapi bakalan yang naik dari 500.000 ekor menjadi 550.000 ekor. "Kita pakai asumsi yang moderat karena melihat adanya pertumbuhan ekonomi dan populasi penduduk," pungkasnya.kbc11

Bagikan artikel ini: