Formula listrik EBT, skema feed on tariff

Minggu, 29 Desember 2019 | 23:41 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) sedang menyusun aturan baru terkait harga beli dari pembangkit listrik berbasis energi terbarukan (EBT). Formula harga baru ini akan menggunakan skema feed in tariff.

Menurut Menteri ESDM Arifin Tasrif aturan baru ini dituangkan melalui Peraturan Presiden (Perpres) yang saat ini sudah diproses Kementerian Sekretariat Negara. Berdasarkan skema feed in tariff kali ini, harga akan dibedakan berdasarkan jenis sumber EBT-nya, karena setiap EBT memiliki perbedaan biaya dan teknologi.

“Contohnya geothermal, lain dengan solar panel, lain dengan biomassa, dengan hydro. Kalau geothermal kan mirip-mirip migas, mengebor dan survei,” ujar Arifin kepada wartawan di Jakarta, baru baru ini.

Lebih lanjut, dia memastikan kebijakan baru tersebut bertujuan agar ramah investor serta tidak merugikan investor. Dengan skema yang baru ini diharapkan pembangunan pembangkit EBT tetap berjalan.

“Kan kemaren feed in tariff diberlakukan untuk semuanya, sehingga tidak jalan. Yang cost-nya mahal, masa mau dijual murah, malah rugi,” terang Arifin.

Selain besaran harga, pemerintah juga sedang menggodok masa berlakunya. Ini akan disesuaikan dengan depresiasi cost yang akan terus menurun sehingga beban PLN tidak terlalu berat.

“Supaya ke depan beban PLN tidak terlalu berat, jangan dipukul rata semua.Padahal biayanya sudah turun, kan ada depresiasi,” jelas Arifin.

Kebijakan baru ini akan menggantikan formula harga pembangkit listrik EBT saat ini yang dihitung berdasarkan biaya pokok penyediaan (BPP) dari PLN seperti tertuang dalam Peraturan Menteri ESDM nomor 50 Tahun 2017. Formula baru ini menjadi salah satu upaya Pemerintah untuk mencapai pemanfaatan EBT sebesar 23% di dalam bauran energi (energy mix) di tahun 2025 sesuai Rencana Umum Energi Nasional (RUEN).kbc11

Bagikan artikel ini: