Pertamina salurkan kuota solar bersubsidi 15,31 juta KL di 2020

Senin, 30 Desember 2019 | 23:55 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) Tahun Anggaran 2020 sebanyak 15,87 juta kiloliter (KL) yang terdiri dari minyak solar 15,31 juta KL dan minyak tanah sebesar 0.56 juta kl. Kuota ini mengalami kenaikan sebesar 5,03% dari kuota BBM tahun 2019 sebesar 15,11 juta kl.

Kepala Badan Pengatur Kegiatan HiliR (BPH) Migas Fanshurullah Asa menjelaskan, alokasi ini jika dibandingkan pada 2019 ini naik 5 persen. Sehubungan dengan hal itu, pemerintah menetapkan PT Pertamina dan PT AKR Corpindo melakukan penugasan untuk menyalurkan solar bersubsidi.

Untuk Pertamina tahun depan sebesar 15 juta (KL). Sementara PT AKR Corporindo, BPH Migas menetapkan kuota solar bersubsidi sebanyak 234.000KL pada tahun depan.Angka ini tidak berubah dibandingkan 2019 ini untuk disalurkan kepada Penyalur Eksisting sebanyak 112 Penyalur dan Penyalur BBM Satu Harga Eksisting sebanyak 10 Penyalur.

"Untuk AKR kami memberikan alokasi yang sama seperti tahun ini sebanyak 234.000 kiloliter. Kami juga meminta kepada AKR agar bisa menyalurkan solar subsidi sesuai dengan sasaran," ujar Fanshurullah kepada wartawan di Jakarta, Senin (30/12/2019).

Presiden Direktur AKR Corporindo Haryanto Adikoesoemo menjelaskan perusahaan akan memaksimalkan penyaluran BBM bersubsidi sesuai dengan target. Ia menjelaskan perusahaan menggunakan sistem IT yang bisa mendeteksi kendaraan mana yang memang pantas mengkonsumsi solar subsidi.

"Untuk tahun ini kita berusaha supaya BBM kifa juga tepat sasaran. Kita ada teknologi IT yang kita bisa meneliti nomor polisi dan juga kalau nelayan itu kita cek. Kalau nggak sesuai dengan kriteria nopol kendraanya maka BBM kita nggak keluar," ujar Haryanto di lokasi yang sama.

Fanshurullah menjelaskan jika melihat realisasi penyaluran pada tahun ini yang sudah jebol dibandingkan anggaran, maka tahun depan potensi kuota juga akan jebol.

"Data ini kalau mengacu 2019 saja naik hanya 810 kl atau lima persen, padahal di 2019 data yang kami verifikasi dari Pertamina itu sudah potensinya sampai 29 Desember kelebihan 1,28 juta kl, lebih kurang Rp 2,58 triliun," ujar Fanshurullah di Jakarta, Senin (30/12/2019).

Disebutkan potensi over kuota pada tahun depan diprediksi akan mencapai 700.000 KL. "Hanya 15.300 KL bertambahnya, kalau mengacu tadi, dan pertumbuhan ekonomi yang sama, maka akan terjadi potensi over kuota lagi 700.000 KL," katanya.

Tak hanya itu, penyaluran premium penugasan juga diperkirakan akan mengalami over kuota. Tahun ini saja, penugasan premium dengan kuota 11 juta KL sudah melebihi angka ketetapan.

"Realisasinya sudah 11,5 juta KL, ini kami sampaikan bahwa masih banyaknya penyimpangan BBM subsidi," pungkasnya.kbc11

Bagikan artikel ini: