Perkebunan dan tanaman pangan jadi lokomotif pertumbuhan KUR sektor pertanian

Kamis, 2 Januari 2020 | 10:33 WIB ET
Direktur Pembiayaan Pertanian Ditjen Sarana dan Prasarana (PSP) Kementan Indah Megawati
Direktur Pembiayaan Pertanian Ditjen Sarana dan Prasarana (PSP) Kementan Indah Megawati

JAKARTA, kabarbisnis.com: Kementerian Pertanian (Kementan) menjadikan sub sektor perkebunan dan tanaman pangan menjadi motor pertumbuhan penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) sektor pertanian. Presiden Jokowi berkeinginan penyaluran KUR sektor pertanian dapat bertumbuh hingga Rp 50 triliun di tahun 2020 .

“Pertumbuhan KUR sektor pertanian sepanjang tahun 2019 cukup bagus, realisasi kredit mencapai Rp 30,1 triliun. Mengalami peningkatan Rp 4,3 triliun dari  realisasi KUR pertanian yang sebesar Rp 25,8 triliun,” ujar Direktur Pembiayaan Pertanian Ditjen Sarana dan Prasarana (PSP) Kementan Indah Megawati kepada kabarbisnis.com di Jakarta, Rabu (1/1/2020).

Sebagai informasi , Presiden Joko Widodo mengkritisi masih besarnya  porsi perdagangan yang memperoleh alokasi KUR. Padahal, apabila porsi kredit KUR yang disalurkan  ke sektor produksi ini lebih besar diharapkan multiplier effect-nya terhadap perekonomian nasional.

Atas hal tersebut , pemerintah pun menurunkan suku bunga KUR menjadi 6 % dari sebelumnya sebesar 7%.  Sementara plafon KUR  juga dinaikkan dari Rp 140 triliun menjadi  Rp 190 triliun.

Dari plafon  KUR sektor pertanian sebesar Rp 50 triliun, Kementan menetapkan target penyaluran KUR pertanian sub sektor perkebunan di tahun 2020 mencapai Rp 20,37 triliun. Sementara untuk sub sektor tanaman pangan sebesar  Rp 14,23 triliun.

Berkaitan target penetrasi KUR sektor pertanian sebesar Rp 50 triliun di tahun ini , sambung Indah, Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo (SYL) juga berkeinginan akses permodalan kepada petani ini bukan hanya di on farm (budidaya tanaman pertanian) .Fasilitasi permodalan diharapkan juga membiayai usaha di pengolahan hingga akses pasar pertanian.

Untuk memudahkan kategorisasi usaha UMKM pertanian , nantinya  Kementan memilah berbasis klaster atau kelompok. Kementan menjadikan sub sektor perkebunan dan tanaman pangan yang menjadi lokomotif pertumbuhan penyaluran KUR mengingat lembaga perbankan sudah memiliki memiliki rekam jejak panjang atas usaha taninya.

Lagi pula  profil kelompok petani  perkebunan dan tanaman pangan sudah lazim berhubungan dengan perbankan. “Banyak kelompok petaninya sudah bankable. Perbankan memiliki analisa resikonya,” ujarnya.

Selain itu,  kontribusi terbesar dari Produk Domestik Bruto pertanian tahun 2018 disumbangkan sub sektor tanaman perkebunan dan tanaman pangan. Catatan terakhir di tahun 2018, PDB pertanian dari dua sub sektor ini masing masing 38,54% dan 29,66%.

Semakin besarnya dukungan akses permodalan diharapkan usaha tani sub sektor perkebunan bertambah daya saingnya sehingga  dapat meningkatkan nilai ekspor pertanian. Sepertihalnya komoditas kelapa sawit dan kakao  sebagai komoditas ekspor perkebunan nasional yang layak memperoleh dukungan pembiayaan KUR.

Sementara sub sektor tanaman pangan,menurut Indah karena hal ini langsung berkaitan dengan keberlangsungan ketahanan pangan nasional. Kementan pun telah menggelontorkan bantuan atau subsidi input guna mendukung peningkatan produksi dan produktivitas pangan.

Mayoritas petani berada di sub sektor tanaman pangan. Pemerintah berkepentingan melakukan proteksi terhadap  keberlangsungan usaha tani. Dengan berkelompok, peluang permodalan dengan bunga lebih murah dapat diakses termasuk petani gurem.

Adapun sub sektor pertanian lainnya seperti peternakan dan hortikultura , aku Indah tetap mendapat perhatian yang sama. Kementan mematok target penyaluran KUR masing masing sub sektor peternakan tahun 2020 sebesar Rp 9,01 triliun dan hortikultura Rp 6,39 triliun.kbc11

Bagikan artikel ini: