Antisipasi lonjakan harga minyak dunia akibat konflik Iran-AS, ini langkah pemerintah

Senin, 6 Januari 2020 | 11:31 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Pemerintah Indonesia mengklaim telah mengantisipasi potensi melonjaknya harga minyak dunia. Diantaranya dengan berencana untuk memboyong minyak langsung dari produsen, Total.

Seperti diketahui, harga minyak dunia diperkirakan akan terus meningkat seiring dengan memanasnya hubungan Amerika Serikat (AS) dan Iran. Hal itu dipicu setelah Amerika Serikat (AS) menyerang Iran, yang memicu kekhawatiran akan meningkatnya ketegangan di Timur Tengah dapat mengganggu produksi energi di wilayah tersebut.

"Ya memang itu yang diminta oleh Pak Jokowi kan kita harus antisipasi. Apa yang terjadi sekarang tentu, mengenai Amerika, Iran dan Timur Tengah pasti akan juga berdampak kepada Indonesia terutama di harga minyak," kata Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir, Minggu (5/1/2020).

Dia menjelaskan, dengan membeli langsung dari produsen minyak bisa memangkas biaya yang selama ini dikeluarkan pemerintah cukup besar. Bahkan menurut Erick, harga minyak yang dibeli bisa lebih murah hingga USD 6 per barel.

"Iya kan supaya bisa cut, memangkas pada margin yang tidak perlu, salah satunya tender dengan AS. Harga jelas lebih murah USD 5-6," jelasnya.

Di samping itu, untuk menangkal lonjakan harga minyak dunia dirinya juga akan mendorong program B30. Sebab, dengan penerapan program tersenut dapat menekan impor minyak.

"Salah satunya kita terapkan B0 dengan adanya B30, ketergantungan daripada impor minyak bisa lebih ditekan," jelas dia.

Harga patokan minyak AS, West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Februari melonjak 1,87 dolar AS menjadi menetap pada 63,05 dolar AS per barel di New York Mercantile Exchange, setelah diperdagangkan setinggi 64,09 dolar.

Sementara itu patokan harga minyak lainya, minyak mentah brent untuk pengiriman Maret melonjak 2,35 dolar menjadi ditutup pada 68,60 dolar per barel di London ICE Futures Exchange. kbc10

Bagikan artikel ini: