Kemenperin bantu mesin untuk IKM yang terkena banjir

Jum'at, 10 Januari 2020 | 00:53 WIB ET

JAKARTA - Kementerian Perindustrian (Kemperin) menyerahkan bantuan mesin dan peralatan kepada para pelaku industri kecil dan menengah (IKM) yang terkena dampak banjir di Jakarta dan Tangerang. Upaya strategis ini diharapkan agar IKM tersebut dapat terus berproduksi sehingga nantinya memberikan kontribusi terhadap perekonomian nasional.

“Dengan beroperasinya kembali usaha dari para pelaku IKM ini, tentunya sejalan dengan tekad pemerintah yang senantiasa ingin mendorong tumbuh kembangnya sektor IKM. Sebab, selama ini sektor IKM telah menjadi tulang punggung perekonomian kita,” kata Menteri Perindustrian, Agus Gumiwang Kartasasmita, ketika mengunjungi sentra IKM tahu dan tempe di Semanan, Kalideres, Jakarta Barat, Kamis (9/1/2020).

Di sentra IKM tahu dan tempe tersebut, Agus didampingi Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah dan Aneka (Ikma) Kemperin Gati Wibawaningsih bersama anggota Komisi VI DPR, Mukhtarudin, menyerahkan secara simbolis sarana produksi. Bantuan yang diberikan berupa pompa dorong 1 PK (20 unit), pompa jet pump 3 PK (2 unit), dinamo mesin giling (4 unit), dan blower (10 unit).

Agus menjelaskan, pada pekan lalu, Ditjen Ikma Kemperin sudah menurunkan tim untuk meninjau langsung ke lapangan sekaligus mendata IKM yang terdampak banjir di wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek).

Upaya ini juga untuk mendapatkan masukan dari mereka mengenai kebutuhan yang diharapkan dan solusi dalam mengatasi banjir ke depannya.

“Jadi, kami menerima laporan, bahwa di Semanan ini ada 1.000 rumah produksi tempe yang meliputi 1.217 pengrajin dan sekitar 17 IKM yang memproduksi tahu. Ini menjadi salah satu sentra IKM di Jabodetabek yang mengalami kebanjiran. Rata-rata peralatan produksi mereka terendam banjir seperti dinamo, pompa air, hingga dapur umum,” ungkap Agus.

Adapun estimasi nilai kerugian mereka sebesar Rp 30 juta per IKM tahu, kemudian ditambah Rp 3 juta per IKM tahu karena bahan baku rusak. Sedangkan, untuk IKM tempe, nilai kerugiannya diproyeksi mencapai Rp1 miliar dari potensi 100 ton tempe yang diproduksi. Bahkan apabila diakumulasikan dengan kerugian lainnya bisa lebih dari Rp 5,1 miliar.

“Mereka mengalami kerugian akibat padamnya listrik sehingga kedelai yang siap produksi gagal diolah. Selain itu, tahu dan tempe yang telah siap dipasarkan, tidak bisa dikirim karena akses distribusi terkena banjir,” sebut Gati.

Gati menambahkan, banyak mesin dari para pelaku IKM tersebut yang mengalami kerusakan karena terendam banjir. “Bahkan, banyak bahan baku kedelai yang juga ikut terendam air. Mereka pun meminta optimalisasi saluran pembuangan air, utamanya di wilayah sentra,” imbuhnya. Kbc9

Bagikan artikel ini: