Seperti apa peluang dan tantangan ekonomi RI di 2020? Ini kata Sri Mulyani

Senin, 13 Januari 2020 | 13:24 WIB ET

KALANGAN pelaku usaha memiliki asa akan membaiknya perekonomian nasional memasuki tahun 2020 ini. Meski sejumlah kekhawatiran menyusul memanasnya kondisi Timur Tengah akibat ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dengan Iran.

Pemerintah sendiri melalui Kementerian Keuangan (Kemenkeu) optimistis perekonomian nasional pada tahun ini akan lebih baik dibandingkan 2019. Hal ini tercermin dari kondisi ekonomi tahun lalu yang tercatat membaik dari beberapa lembaga internasional.

Hal itu juga ditegaskan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati baru-baru ini. Dia berharap tahun 2020 ada pemulihan, meski juga melihat masih ada risiko untuk outlook 2020.

Seperti diketahui, pada pertengahan 2019 Bank Dunia dan Dana Moneter Internasional (IMF) sempat merevisi ke bawah ekonomi tahun ini. Namun, pertumbuhan ekonomi diyakini masih akan lebih baik dibandingkan dengan perekonomian tahun lalu.

"Namun risk yang muncul masih ada. Seperti brexit dan tensi geopolitik. Ini jadi tantangan kita, tapi sekaligus jadi ada optimisme maupun risiko di 2020," jelasnya.

Sri Mulyani menambahkan pada tahun ini pertumbuhan ekonomi ditargetkan 5,3 persen dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Pertumbuhan itu ditopang oleh sektor konsumsi dan investasi sebagai motor penggerak utamanya.

Akan tetapi, beberapa risiko masih akan mempengaruhi ekonomi 2020, yaitu ketidakpastian perang dagang, brexit, perlambatan ekonomi beberapa negara berkembang seperti India dan Tiongkok, pemilu di Amerika Serikat (AS), peningkatan utang yang berisiko pada stabilitas sistem keuangan, serta tensi politik dan geopolitik.

Sri Mulyani mengakui ada beberapa realisasi asumsi makro Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2019 yang meleset. Salah satunya realisasi pertumbuhan ekonomi yang diperkirakan hanya menyentuh 5,05 persen.

Menurutnya, meski angka ini belum final, namun capaiannya jauh dari target yang ditetapkan pemerintah, yaitu sebesar 5,3 persen. Akan tetapi, capaian tersebut disebut tetap positif di tengah banyaknya tekanan dari sisi ekonomi global.

"Dengan tekanan tadi kita tetap mampu menjaga pertumbuhan kita di atas 5 persen. APBN growth yang diestimasi 5,3 persen realisasinya 5,05 persen estimasi," kata Menkeu.

Kemudian untuk lifting minyak dan gas tidak sesuai dengan estimasi. Lifting minyak pada 2019, realisasinya hanya mencapai 741.000 barel per hari. Sementara, target di APBN sebesar 775.000 barel per hari.

Lifting gas, realisasi pada 2019 hanya sebanyak 1.050.000 barel setara minyak per hari. Di mana, target sebesar 1.250.000 barel setara minyak per hari.

Realisasi lifting migas tersebut, lanjut Menteri Sri Mulyani, mempengaruhi pendapatan negara dari sektor migas pada 2019. Di mana, patokan harga minyak mentah Indonesia atau Indonesia Crude Price (ICP), tercatat terealisasi sebesar US$62 per barel. Lebih rendah dibandingkan target harga sebesar US$70 per barel.

Terakhir untuk tingkat suku bunga surat perbendaharaan negara (SPN) 3 bulan di APBN 2019 dinilai buruk. Di mana, ditargetkan sebesar 5,6 persen dari estimasi realisasi 5,3 persen. kbc10

Bagikan artikel ini: