Jatah impor minyak mentah Pertamina bakal dipangkas 30 juta barel

Rabu, 15 Januari 2020 | 09:02 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) siap memangkas jatah impor minyak mentah Pertamina sebanyak 30 juta barel pada tahun ini. Hal ini dilakukan agar Pertamina meningkatkan serapan minyak dari hasil produksi Kontraktor Kontrak Kerja Sama atau KKKS di dalam negeri.

Pelaksana Tugas Dirjen Migas Kementerian ESDM Djoko Siswanto mengatakan Pertamina selama ini mengajukan impor minyak mentah sebesar 80 juta barel setiap tahun. Namun, pemerintah akan memangkas jatah impor tahun ini sebanyak 8 ribu barel minyak per bari atau bopd. "Impor crude-nya Pertamina saya kurangi 8.000 barel per hari selama 2020. Sekitar 30 juta barel dalam setahun," ujar Djoko di Jakarta, Selasa (14/1/2020).

Pemangkasan impor, menurut Djoko dilakukan agar Pertamina dapat memaksimalkan penyerapan minyak mentah yang di produksi KKKS dalam negeri. Saat ini, terdapat sekitar 80 ribu barel minyak per hari yang belum terserap oleh perusahaan pelat merah tersebut. "Produksi minyak mentah ada sekitar 200.000 barel per hari, sudah 120.000 barel per hari dibeli. Sekitar 80.000 barel per hari belum berhasil dibeli," kata dia.

Pertamina sendiri untuk tahun ini dipastikan hanya akan menyerap setidaknya 120.000 bopd minyak mentah jatah kontraktor. Karenanya Djoko pun mendorong Pertamina agar angka penyerapan dapat ditingkatkan lantaran potensi minyak mentah yang bisa diserap bisa mencapai 200.000 bopd.

Pemangkasan ini merupakan tindak lanjut dari Peraturan Menteri ESDM Nomor 42 Tahun 2018 tentang Prioritas Pemanfaatan Minyak Bumi untuk Pemenuhan Kebutuhan dalam Negeri. Permen ini telah ditandatangani mantan Menteri ESDM sebelumnya, Ignasius Jonan pada 5 September 2018 lalu.

Dalam Pasal 2 disebutkan beleid tersebut, Pertamina dan Badan Usaha Pemegang Izin Usaha Pengolahan Minyak Bumi wajib mengutamakan pasokan minyak bumi yang berasal dari dalam negeri.Mereka juga wajib mencari pasokan minyak bumi yang berasal dari kontraktor dalam negeri sebelum merencanakan impor. Bagi kontraktor atau afiliasinya, juga wajib menawarkan minyak bumi bagian kontraktor kepada Pertamina dan/atau Badan Usaha Pemegang Izin Usaha Pengolahan Minyak Bumi.

“Kewajiban penawaran sebagaimana dimaksud dilaksanakan paling lambat 3 (tiga) bulan sebelum dimulainya periode rekomendasi ekspor untuk seluruh volume minyak bumi bagian kontraktor,” demikian tertulis dalam Permen 42/2018 Pasal 4 ayat 1.

Antara Pertamina dan kontraktor ataupun afiliasinya wajib menegosiasikan harga jual minyak mentah yang akan dibeli atau dijual dengan pendekatan business to business.Terhadap hasil negosiasi sebagaimana dimaksud, Pertamina dapat melakukan penunjukan langsung kontraktor untuk pembelian minyak bumi bagian kontraktor. Atas penunjukan langsung, BUMN perminyakan ini pun dapat mengadakan kontrak jangka panjang selama 12 bulan.

Setelah dilakukan negosiasi antara kontraktor atau afiliasinya dan Pertamina, wajib melaporkan hasil negosiasi kepada Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Kementerian ESDM. Sebelumnya, pada Juli 2019 lalu, Pertamina telah bekerja sama dengan 37 KKKS untuk menyerap minyak mentah domestik sebesar 116.900 barel per hari (MBCD). Penyerapan ini meningkat lebih dari 800% dibandingkan dengan volume pembelian tahun 2018 sebesar 12,8 MBCD.

Vice President Corporate Communication Pertamina Fajriyah Usman menjelaskan volume minyak tersebut merupakan hasil kesepakatan dengan 37 kontraktor kontrak kerja sama (KKKS) yang beroperasi di Indonesia. Menurutnya, dengan adanya pembelian minyak mentah domestik tersebut, dapat meningkatkan kedaulatan energi Indonesia.“Dengan mengambil minyak mentah dari dalam negeri, maka semakin mendukung upaya kami untuk mengamankan pasokan bahan baku untuk kilang-kilang Pertamina,” katanya dalam keterangan tertulis.

Ia menambahkan, Pertamina akan terus memperluas kerja sama berdasarkan dengan kesepakatan bersama masing-masing KKKS. Dengan semakin banyak serapan minyak mentah dan kondensat dalam negeri, lanjut Fajriyah, maka akan berdampak pada pengurangan impor minyak mentah. Bahkan hingga kini Pertamina sudah tidak lagi mengimpor minyak mentah jenis heavy dan super heavy, tapi hanya mengimpor jenis light dan medium crude.kbc11

Bagikan artikel ini: