Ini cara Prudential jaga masyarakat dari kemiskinan akibat penyakit kritis

Rabu, 15 Januari 2020 | 23:04 WIB ET

SURABAYA, kabarbisnis.com: Penyakit kritis menjadi salah satu penyebab turunnya tingkat kesejahteraan  masyarakat. Selain akibat mahalnya biaya pengobatan, kemiskinan tersebut juga dipicu oleh hilangnya potensi pendapatan atau bahkan pekerjaan akibat si pekerja mengalami sakit kritis. 

Untuk meringankan beban penyandang penyakit kritis, maka PT Prudential Life Assurance (Prudential Indonesia) telah meluncurkan produk terbaru mereka, yaitu PRUTotaI Critical Protection (PRUTop) dan PRUTotaI Critical Protection Syariah (PRUTop Syariah). Solusi ini adalah rangkaian produk pelengkap asuransi tambahan inovatif pertama di industri dalam memastikan masyarakat Indonesia terlindungi secara total tanpa ada batasan jumlah maupun jenis penyakit kritis. 

Head of Product Development Prudential Indonesia Himawan Purnama menjelaskan bahwa asuransi kondisi kritis saat ini terbatas pada diagnosis jenis penyakit. PRUTop dan PRUTop Syariah menawarkan konsep baru perlindungan kondisi kritis yang berfokus pada perawatan, tindakan, atau ketidakmampuan permanen yang terjadi akibat kondisi kritis. 

"Hal tersebut yang menjadikan PRUTop dan PRUTop Syariah unggul di kelasnya karena kedua produk ini mampu melindungi kesehatan dan finansial masyarakat Indonesia secara menyeluruh dan memastikan mereka hidup lebih tenang," ujar Hermawan di Surabaya, Rabu (15/1/2020).

Ia mengatakan, bahwa ketika seseorang menderita penyakit kritis, ada biaya yang harus dikeluarkan secara langsung yang disebut direct cost, seperti biaya perawatan di Rumah Sakit dan biaya tindakan. Selain itu, juga ada biaya tidak langsung yang sering tidak dihiraukan oleh masyarakat, yaitu biaya keseharian akibat tidak bisa bekerja, biaya pendidikan anak, biaya pelunasan hutang serta biaya keluarga saat mendampingi perawatan. Inilah yang akhirnya mengakibatkan mereka terpuruk dalam kemiskinan.

"Asuransi tambahan proteksi kondisi kritis ini untuk menjaga agar seseorang bisa melanjutkan hidupnya sehari-hari. Asuransi yang menggunakan perawatan, tindakan dan ketidakmampuan dalam mendefinisi penyakit kritis," terangnya.  

Pada kesempatan yang sama, dr. Chandra Wijaya dari Siloam Hospitals Surabaya memaparkan bahwa secara global, World Health Organization (WHO) mengkategorikan permasalahan kesehatan hingga mencapai 68.000 jenis. Indonesia pun tak Iepas dari bahaya kesehatan tersebut dan harus terus siaga terhadap kemunculan penyakit-penyakit baru. "Para ahli memperkirakan lima penyakit baru pada manusia muncul tiap tahun, tiga diantaranya bersumber dari binatang," katanya.

Lebih lanjut, berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar 2018, beberapa prevalensi Penyakit Tidak Menular Jawa Timur berada di atas rata-rata nasional, seperti penyakit stroke 12,4 persen (rata-rata nasional 10,9 persen) dan kanker 2,17 persen (rata-rata nasional 1,79 persen). Tak hanya itu, penyakit diabetes melitus di wilayah Jawa Timur juga masih tinggi yaitu 2 persen (rata-rata nasional 1,5 persen) dan Surabaya merupakan kota dengan prevalensi yang cukup tinggi di Jawa Timur untuk kasus ini melebihi 3 persen. 

“Penyakit kritis dapat menyerang siapa saja, kapan saja sehingga sebaiknya masyarakat tidak terpaku menghindari hanya suatu penyakit tertentu. Berbagai permasalahan kesehatan dapat terus bertambah akibat banyak faktor, seperti lifestyle, globalisasi hingga perubahan iklim. Masyarakat perlu mengantisipasi ancaman penyakit kritis ini dengan mengubah gaya hidup mereka dan Iebih menyadari mahalnya kesehatan. Penyakit kritis dapat berimplikasi pada aspek psikologis, sosial hingga finansial yang dapat menggoyahkan stabilitas ekonomi dan masa depan keluarga,” pungkas dr. Chandra.kbc6

Bagikan artikel ini: