Pertumbuhan industri jamu diprediksi tumbuh 5% di tahun ini

Jum'at, 17 Januari 2020 | 09:21 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Gabungan Pengusaha Jamu (GP Jamu) memprediksi kinerja industri jamu dan obat tradisional bakal tumbuh 5% sepanjang 2020. Jika dibandingkan dengan tahun lalu, GP Jamu menilai realisasi kinerjanya stagnan.

Ketua Umum GP Jamu, Dwi Ranny Pertiwi menjelaskan, ada beberapa katalis positif yang akan mengembalikan gairah industri ini. "Salah satunya pemanfaatan e-commerce untuk memasarkan produk jamu dan obat," kata dia, Rabu (15/1/2020).

Lebih lanjut Dwi bilang, adanya platform penjualan online bisa memfasilitasi beredarnya obat tradisional menjadi lebih masif. Tidak hanya menggunakan e-commerce populer saja, GP Jamu telah menyiapkan platform bersama untuk menjembatani produk lokal dipasarkan ke luar negeri.

Dwi bilang, segmentasi platform tersebut untuk pembeli di luar negeri sehingga bisa mencari produk yang sesuai dengan kebutuhan dan permintaan mereka.

Selain dari segi penjualan, di sisi produksi, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) telah membentuk satuan tugas (Satgas) untuk memacu jumlah bahan baku industri jamu dan fitofarmasi. 

Nah, Satgas fitofarmaka atau obat dari bahan alam yang telah diuji keamanan dan khasiat ilmiahnya harus dibantu karena biaya pengujiannya untuk sampai pada tahap fitofarmaka yang mahal.

"Produk jamu kalau sudah sampai tahap fitofarmaka biayanya sangat tinggi hampir Rp 2 miliar," ujarnya. 

Lebih lanjut, Dwi bilang Satgas ini dibuat untuk memastikan seluruh proses sesuai dengan standard internasional mulai dari bahan baku, proses, hingga hasilnya.

Meski diproyeksikan tumbuh, bukan berarti industri jamu dan obat tradisional tanpa hambatan. Salah satu faktor yang menghambat industri jamu adalah program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) yang membuat mindset masyarakat jadi berubah. Lebih jelasnya, masyarakat merasa tidak perlu menjaga kesehatan dengan jamu atau obat tradisional karena ada pengobatan gratis.

Direktur Utama PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk (SIDO) David Hidayat  mengakui masih optimistis menyongsong industri jamu di tahun ini. 

"Seiring dengan tren gaya hidup sehat masyarakat yang menginginkan produk-produk yang lebih natural dan aman dikonsumsi siapa saja," ujarnya.

Adapun perusahaan yang produksi Tolak Angin ini perusahaan masih bisa tumbuh dua digit atau di atas 10% di sepanjang 2020. kbc10

Bagikan artikel ini: