Kredit bank hanya tumbuh 6%, OJK sebut banyak yang pinjam ke luar negeri

Jum'at, 17 Januari 2020 | 09:53 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat kredit perbankan tumbuh di angka 6,08 persen sepanjang tahun 2019. Angka tersebut disinyalir karena banyaknya korporasi memilih menggunakan sumber dana dari luar negeri. Alasannya karena pinjaman dari luar negeri memiliki suku bunga yang lebih murah.

"Pembiayaan bersumber dari luar negeri karena suku bunganya murah," kata Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso di acara Pertemuan Tahunan Industri Jasa Keuangan 2020 di Hotel Ritz Carlton, Pasific Place, Jakarta, Kamis (16/1/2020).

Hal ini terlihat dari pembiayaan offshore yang meningkat 133,6 persen yoy atau senilai Rp 130,4 triliun. Lalu, pembelian surat berharga naik 15,8 persen atau senilai Rp 97 triliun.

Sementara, dia melanjutkan, pertumbuhan kredit perbankan didominasi oleh bank BUKU IV yang tumbuh 7,8 persen yoy. Sedangkan BUKU III tumbuh 2,4 persen yoy, BUKU II tumbuh 8,4 persen yoy, dan BUKU I tumbuh 6,44 persen yoy.

Pertumbuhan kredit ini ditopang oleh sektor konstruksi yang tumbuh 14,6 persen yoy dan rumah tangga tumbuh 14,6 persen yoy. Sejalan dengan itu, kredit investasi meningkat 13,2 persen yang menunjukkan potensi pertumbuhan sektor rill ke depan.

Pertumbuhan kredit ini diikuti dengan profil risiko kredit yang terjaga. Rasio NonPerformning Loan gross perbankan tercatat rendah yaitu sebesar 2,5 persen gross atau net sebesar 1,2 persen.

Capital Adequacy Ratio perbankan mencapai 23,3 persen, likuiditas yang cukup dengan LDR 93,6 persen, Net interest margin tercatat turun menjadi 4,9 persen dari 5,1 persen di 2018. Rata-rata suku bunga kredit turun dari 10,8 persen di akhir 2018 menjadi 10,5 persen di akhir 2019.

Dari data tersebut, OJK optimistis dengan stabilitas di sektor perbankan. Meskipun tetap harus menjaga pertumbuhan kredit dengan ruang likuiditas yang menyempit. "Namun risiko kredit terjaga dengan baik," kata Wimboh. kbc10

Bagikan artikel ini: