Bisnis kuliner vegetarian kian menggeliat di Jatim

Sabtu, 18 Januari 2020 | 18:24 WIB ET

SURABAYA - Bisnis kuliner vegetarian di 10 kota di Jawa Timur kian menggeliat dan diprediksi akan terus mengalami tren pertumbuhan kedepan seiring dengan banyaknya pecinta kuliner vegetarian yang beralih ke gaya hidup sehat.

Ketua Indonesia Vegetarian Society (IVS) Jawa Timur, Susanto mengatakan tren pertumbuhan kuliner vegetarian di Jawa Timur (Jatim) tercermin dari gelaran tahunan Vegan Festival dari tahun ke tahun. Pada awal digelarnya acara itu pada 2012 lalu, IVS mengalami kesulitan mencari pelaku bisnis vegetarian untuk membuka tenant selama berlangsungnya kegiatan itu. Waktu itu, hanya ada 2 peserta di Surabaya dan itupun berasal usaha rumah tangga. Ditambah lagi, jumlah pengunjung acara itu juga hanya mencapai 3.000 orang.

Namun pada kegiatan yang sama pada 2019 lalu, jumlah peserta meningkat cukup drastis, yakni mencapai 20 pelaku bisnis vegetarian dan jumlah pengunjung sebanyak 20.000 orang. Dan, pada Vegan Festival 2020 dengan tema ‘Back to Nature’ pada 16-19 Januari 2020 yang merupakan tahun ke-9 itu diikuti oleh 40 peserta. Jumlah pengunjung pun diprediksi akan bertambah seiring dengan pertumbuhan jumlah peminat kuliner vegetarian.

Banyaknya pengunjung karena selain banyaknya tenant, Vegan Festival kali ini juga dimeriahkan dengan serangkaian acara yang menarik dan bermanfaat bagi para pengunjung. Seperti bazaar produk dan makanan Vegan, seminar dan bincang santai bersama Dr. Drs. Susianto, MKM, dr. Sungadi Santoso, Chandra Putra Negara (Youtuber Success Before 30) dan Annabella (Selebgram & Vegan Vlogger), Having Fun with Hansol Jang (Youtuber Korea Reomit), Medical Check Up, demo masak Vegan oleh Chef Juna (Judge of Masterchef Indonesia) dan Chef Huang Yu Ling (Indonesia Vegan Chef), Kapha Yoga oleh Caroline Ang, Lomba Mewarnai, Senam Kasih Semesta.

“Kami targetkan jumlah pengunjung bisa mencapai 30.000 orang,” kata Sutanto di sela pembukaan Vegan Festival di Grand City Surabaya, Kamis (16/1/2020).

Dia menyatakan bisnis kuliner vegetarian tidak hanya berkembang di Surabaya, tetapi juga di 10 kabupaten di Jawa Timur seperti Jember, Banyuwangi, Kediri, Mojokerko, Malang dan lainnya. Saat ini jumlah pelaku bisnis kuliner vegetarian baik dari kalangan Usaha Kecil dan Menengah (UKM) atau pemilik restoran mencapai 50 orang. Jumlah itu meningkat lebih dari 100 persen dalam lima tahun terakhir. “Jumlah pelaku usaha bisnis kuliner vegetarian akan terus bertambah karena kesadaran masyarakat untuk hidup sehat juga akan meningkat akhir-akhir ini,” ungkap Sutanto.

Sutanto menjelaskan, saat ini masyarakat masih membutuhkan sosialisasi yang lebih banyak tentang makanan nabati (vegan), terutama kepada mereka yang masih mempersepsikan kalau makanan vegan memiliki kandungan gizi yang rendah.

“Kita gelar Vegan Festival juga untuk menyosialisasikan pola hidup sehat berbasis vegan,” tandas Sutanto.

Saat ini, lanjut dia, di Surabaya konsep pola hidup sehat berbasis nabati telah menjadi tren tersendiri di kalangan masyarakat, menjadi salah satu pola makan untuk diet dan telah diterapkan di beberapa sekolah. Secara perlahan banyak masyarakat yang telah beralih menjadi seorang vegan dengan tidak mengonsumsi makanan atau  minuman serta menggunakan produk yang berasal dari hewani.

“Dengan menjadi seorang vegan, kita telah ikut serta dalam menyelamatkan dunia dari kelaparan, mengurangi dampak kerusakan lingkungan, efek global warming dan menjaga kesehatan kita,” papar Sutanto.

Ditambahkan, menurut The United Nations, perdagangan daging merupakan salah satu dari dua atau tiga faktor utama dalam pengontribusian masalah lingkungan yang serius dalam segala jangkauan baik secara lokal maupun global. Hal tersebut karena limbah dari industri peternakan bisa mencemari lapisan tanah dan air dengan

kelebihan unsur hara, zat kimia perindustrian, obat-obatan hewan, antibiotik, logam, dan berbagai mikroorganisme seperti bakteri, virus dan parasit. Sektor peternakan juga merupakan faktor utama penyebab penggundulan hutan tropis untuk lahan merumput

ternak, penyebab erosi daratan dunia, dan penyebab meluasnya pembentukan gurun pasir. Keadaan ini diperburuk lagi dengan kenyataan 70% air dunia digunakan untuk konsumsi ternak dan aktivitas pencucian di rumah jagal.

Selain itu pola makan hewani atau konsumsi daging dapat membawa dampak yang buruk bagi kesehatan kita. Banyak penelitian telah membuktikan bahwa timbulnya penyakit-penyakit degeneratif, seperti penyakit jantung, stroke, hipertensi, kanker, diabetes melitus, obesitas, osteoporosis, sangat berkaitan erat dengan pola konsumsi pangan hewani yang tinggi kolesterol dan lemak jenuh.

American Dietic Association (ADA) menyimpulkan bahwa diet vegetarian dan vegan jauh lebih sehat dibanding diet yang masih mengkonsumsi daging. ADA mengatakan

bahwa vegetarian mempunyai index massa tubuh, kolesterol darah, dan tekanan darah yang lebih rendah. Selain itu, resiko kematian akibat penyakit jantung,

diabetes tipe 2, kanker prostat dan usus pada vegetarian jauh lebih rendah dibanding mereka yang mengkonsumsi daging.

“Dengan melihat fenomena tersebut diatas, kami sadar bahwa perlu diadakan sosialisasi kepada masyarakat luas tentang pentingnya pola hidup sehat berbasis nabati (Vegan) dan gerakan ramah lingkungan untuk mengurangi efek global warming dan climate

Change,” pungkas Sutanto.

Bagikan artikel ini: