Dua tahun lagi, Bali bakal miliki LRT

Rabu, 22 Januari 2020 | 09:25 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Pemerintah berkomitmen untuk menggenjot jumlah wisatawan baik wisatawan mancanegara maupun domestik, salah satunya dengan membangun infrastruktur.

Melalui Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), pemerintah tengah mempersiapkan pembangunan Lintas Rel Terpadu (LRT) di Bali. Hal ini ditujukan untuk mengurangi kepadatan di bandara.

Komitmen pembangunan tersebut dipercepat melalui penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) antara PT Nindya Karya dengan Korea Overseas Infrastructure & Urban Development Corporation (KIND) serta Korea Rail Network Authority (KRNA).

Pembangunan proyek LRT sepanjang 3,5 kilometer (km) ini rencananya akan diadakan di ruas Bandara I Gusti Ngurah Rai demi mengurangi kepadatan kendaraan di sana.

"Kita bangun ini untuk kurangi crowded parkir di Bandara," ujar Plt Dirut Nindya Karya Haedar A Karim di Gedung BKPM, Jakarta, Selasa (21/1/2020).

Menurut Haedar, proyek pembangunan transportasi tersebut akan mulai dibangun paling lambat tiga bulan dari proses penandatanganan MoU hari ini dilaksanakan atau sekitar Juni 2020. Sedangkan, operasionalnya ditarget rampung per 2022 mendatang. 

"Mungkin pembangunannya antara satu setengah tahun sampai dua tahun (sudah operasi)," tambahnya.

Untuk nilai investasi yang ditanamkan Korea Selatan kepada Indonesia terkait proyek tersebut mencapai Rp 5 triliun. "Kira-kira Rp 5 triliun dengan model B to B (business to business)," pungkasnya.

Proyek pembangunan LRT ini merupakan salah satu dari sekian banyak kerja sama RI dengan Korea Selatan yang belakangan memang tengah digenjot pemerintah.

Sebelumnya, BKPM telah melakukan penandatanganan MoU dengan KIND demi meningkatkan arus investasi dari Korea Selatan dalam bidang kerjasama infrastruktur dan pembangunan wilayah perkotaan. 

Nota Kesepahaman ditandatangani oleh Deputi Bidang Perencanaan Penanaman Modal BKPM Ikmal Lukman dan Executive Vice President KIND Han Kyu Lim pada perhelatan Business Forum: Invest Indonesia di Seoul, Korea Selatan per 20 September 2019 silam. 

Untuk diketahui, menurut data BKPM, investasi asal Korea Selatan didominasi sektor industri mesin dan elektronik (15%); pertambangan (13%); gas dan air (9%); industri sepatu (8%); serta industri karet dan plastik (8%). 

Sebagian besar investasinya masih berada di Pulau Jawa, diikuti dengan Kalimantan dan Sumatera. Total realisasi investasi sejak tahun 2014 sampai Triwulan II tahun 2019 ini mencapai US$ 7,5 miliar. 

Dengan realisasi investasi mencapai US$2 miliar di tahun 2017 dan US$1,6 miliar di tahun 2018. kbc10

Bagikan artikel ini: