Meski impor meroket, daging kerbau gagal sentuh harga acuan

Jum'at, 24 Januari 2020 | 08:15 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Perintah berencana mengimpor daging kerbau dari India tahun 2020 sebesar 60.000 ton .Kendati recana volume impor menurun dibandingkan dua tahun terakir, namun keinginan awal pemerintah meredam harga daging ternak ruminansia di pasaran dianggap justru sulit direalisasikan.

Harga daging kerbau ditetapkan Rp 80.000 per kilogram (kg) sesuai Permendag No 96 tahun 2018. Namun, faktanya di sejumlah lokasi seperti di pasar tradisional di Banjarmasin harganya  justru menembus di atas Rp 100.000 per kg . Malah secara sembunyi sembunyi pedagangnya mengoplos dengan daging sapi,” ujar Ketua Ikatan Sarjana Peternakan Indonesia (ISPI) Didik Purwanto usai seminar Dampak Impor Daging Kerbau India terhadap Produksi Daging Lokal di Kalimantan Selatan di Jakarta, Kamis (23/1/2020).

Data impor daging kerbau India yang dihimpunnya , pertama kali dirilis tahun 2016 sebesar 39.000 ton. Kemudian ditahun berikutnya yakni 2017  meningkat menjadi  54.000 ton.Angka impor kerbau pun terus meningkat hingga di tahun 2018 mencapai 79.630  ton.Adapun di tahun 2019 lalu, realisasi impor daging sudah menembus diatas 80.000 an dari kuota sebesar 100.000 ton.

Karena itu, Didik meminta pemerintah meminta pemerintah meninjau ulang kembali impor daging kerbaudari India. Hasil kajian menunjukan dari aspek ekonomi dan sosial tidak menguntungkan peternak sapi dalam ngeri. “Harga daging dalam negeri tidak kunjung turun dan peternak tertekan dengan adanya daging kerbau india. Peternak tidak bergairah mengembangkan peternakan sapi potong.Kalau terus dibiarkan, akan membahayakan peternak lokal,” jelas dia.

Didik menyebutkan impor daging kerbau membawa efek negatif terhadap kehidupan sosial peternak. Peternak sapi potong tidak lagi bergairah karena harus berhadapan langsung dengan daging india yang sudah dijalankan secara industrialisasi.

Menurutnya jika hal ini terus dilanggengkan maka ke depannya akan membahayakan peternakan sapi lokal. Dampak sosial kepada peternak sudah tidak ingin mengembangkan ternak sapinya, padahal mereka menjadi tulang punggung suplai daging dalam negeri.

“Produktivitas sapi lokal akan berkurang dan imbasnya produksi daging juga akan menurun. Maka kita akan semakin tidak mampu memenuhi kebutuhan daging dalam negeri.  Ujungnya bakal terus dipenuhi dari impor,” ujar dia.

Selain itu, menurutnya  penyebaran penyakit mulut dan kaki (PMK) ini perlu dilakukan pengawasan yang ketat. Dalam UU PKH Indonesia tidak diperbolehkan impor daging dari negara yang belum bebas PMK seperti India. Lemahnya pengawasan membuat perdagangan daging kerbau lebih mudah diperdagangkan dengan transportasi darat tanpa terdeteksi.

Padahal, potensi terkontaminasi penyebaran PMK di Indonesia  kian meningkat karena diindahkan cara pengemasan dan waktu pendistribuian sehingga  Indonesia kesulitan  mengontrol peredaran impor daging kerbau.Meskipun,  hingga kini belum ada indikasi PMK masuk Indonesia. “Kita berharap itu tidak terjadi. Dari tahun 1983 hingga kini indonesia masuk ketagori negara bebas dari PMK,” terangnya.

Untuk itu, peran Badan Karantina Pertanian ini penting dalam pengawasan peredaran daging kerbau India. “Lalu lintas daging harus diawasi harus ada penyertaan surat kesehatan hewan dari dinas kesehatan setempat,” pungkas dia

Peneliti dari Universitas Mangkurat Dr Ika sumantri mengatakan Kalsel merupakan produsen sapi terbesar di Pulau Kalimatan dengan populasi sebesar 172.000 ekor. Meski begitu, Kalsel juga menjadi pasar perdagangan ternak antar pulau terbesar.

Berdasarkan hasil kajiannya di tahun 2017, impor daging kerbau telah melemahkan perdagangan ternak sapi lokal di wilayahnya.Misalnya di pasar hewan Pelaihari yang biasanya memperdagangkan sapi sebesar 500-700 ekor /pekan. Kini , maksimal hanya 150 ekor /pekan saja.

Data dari Rumah Potong Hewan Banjarmasin turun hingga 25 % sejak dibukanya impor daging kerbau yang dijual Rp 60.000-Rp 65.0000 /kg. Sementara merujuk responden di pasar basah Martapura penjualan daging sapi lokal turun 30- 50% dibandingkan 2-3 tahun lalu.

Kendati demikian harga daging sapi lokal cenderung stabil pada kisaran Rp 100.000-Rp 130.000 /kg. Sementara harga daging sapi impor maksimal Rp 85.000/kg. Merujuk catatannya, volume penjualan daging sapi di tingkat distributor sebesar 50-1010 ton /bulan, sekitar 60 % sudah dipasok dari daging kerbau India.”Impor daging kerbau menyebabkan penurunan harga sapi antar pulau rerata Rp 2 juta,” pungkasnya

Sementara, Dr Andre Rvinda Daut, peneliti dari ISPI menyebutkan importasi daging kerbau mengakibatkan skala usaha sapi potong di empat provinsi seperti Jawa Barat , Jateng, Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Timur mengalami penurunan hingga 41,5%. Sementara harga input seperti bibit dan bakalan justru mengalami peningkatan masing-masing 21,75% dan 27,75.

Peternak lebih memilih menjual di Hari Raya Kurban karena harganya dinilai lebih tinggi.”Peternak jadi lebih menahan harga sapi jantan. Harga sapi potong berat hidupnya sebesar Rp 52.000 per kg. Padahal sebelum dibuka iimpor daging kerbau hanya Rp 46.000 /kg,” pungkasnya.kbc11

Bagikan artikel ini: