Wabah virus PMK intai RI, potensi kerugian ekonomi capai Rp9,9 triliun

Minggu, 26 Januari 2020 | 20:27 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Indonesia pernah terserang ledakan wabah virus Penyakit Mulut Kaki (PMK) yang ditularkan penyakit ternak sapi di tahun 1887. Pemberantasan PMK secara massif dimulai di tahun 1973, dan baru benar benar dinyatakan bebas Organisasi Kesehatan Dunia (OIE) di tahun 1990.

Sinyal peringatan itu diutarakan Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia (PDHI) sehubungan kebijakan pemerintah yang membuka impor daging kerbau India yang dinyatakan belum bebas PMK. Karenanya hewan ternak di Indonesia beresiko terserang virus PMK.

Jika ini terjadi, dampak kerugian ekonomi yang ditimbulkan mencapai US$761,3 juta atau Rp 9,9 triliun per tahun.Demikian Ketua II Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia (PHDI) Tri Satya Putri Naipospos di Jakarta, Minggu (26/1/2020)

Tri Satya Putri mengungkapkan Indonesia harus melakukan mitigasi resiko sedini mungkin sehubungan importasi daging kerbau dari negara yang belum bebas PMK. "Dalam perdagangan selalu ada risiko dan tiap negara harus melakukan upaya antisipasi karena PMK masuk tidak hanya dari ternak, tapi juga dari pemasukan illegal produk daging yang terkontaminasi dan sisa bangunan kapal terbang atau laut yang diberi makan untuk ternak babi," ujar Tri Satya.

Menurutnya ketika terjangkit virus ini harus tergantung dari vaksin impor, apalagi Indonesia tidak mempunyai pabrik vaksin dan akhirnya semuanya tergantung dari luar negeri.

"Untuk itu, Indonesia harus bersiap siaga dari kemungkinan terburuk serangan PMK. Pemerintah musti menyediakan dana yang besar untuk melakuan surveilands, simulasi dan investigasi. Dibutuhkan biaya Rp 7,7 miliar per tahun," katanya.

Tri Satya mengatakan, Indonesia tetap berada dalam ancaman serangan PMK karena virus ini diestimasi bersirkulasi pada 77 persen populasi ternak global di Afrika, Timur Tengah, Asia dan Amerika Selatan.

"Dalam konteks global PMK adalah penyakit menular hewan paling ditakuti di seluruh dunia. Ini tidak terlepas dari sifat-sifat virus PMK yang sulit diatasi," kata dia.

Virus yang terbagi kedalam tujuh serotipe yang berbeda secaea antigenik tidak memiliki proteksi silang satu dan lainnya. Lebih dari 60 subtipe virus PMK yang kekebalan terhadap satu tipe tidak memproteksi tipe lainnya.

"PMK adalah suatu penyakit pandemik yang menyebabkan kerugian global sebesar USD 6,5 hingga USD 21 miliar atau Rp 87, 7 trilun sampai 283,5 triliun per tahun," ungkap Tri.

Dia menyebutkan virus ini menular dan menyebar secara cepat pada hewan berkuku belah. Jadi 1 miliar dari 1,7 miliar ruminansia besar global berada di negara-negara endemik serta 2 persen populasi sapi dunia terjangkit PMK dalam setahun.kbc11

Bagikan artikel ini: