Kinerja industri penerbangan diprediksi masih positif di 2020, ini penyebabnya

Senin, 27 Januari 2020 | 10:41 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Prospek bisnis industri penerbangan di Tanah Air pada 2020 diprediksi masih positif. Hal ini mengulang pencapaian bisnis pesawat yang tumbuh positif pada 2019 lantaran tingginya harga tarif pesawat.

"Kalau tetap mengikuti strategi di tahun 2019 ya kemungkinan positifnya lebih tinggi," ujar Pengamat Penerbangan Gatot Rahardjo di Jakarta, Minggu (26/1/2020).

Dia menilai pertumbuhan bisnis maskapai di Indonesia, terutama mengenai tarif, amat tergantung dengan kondisi PT Garuda Indonesia (Persero). Kata Gatot, Garuda pada paparan triwulan III mengakui tingginya tarif pada 2019, di mana persentase pendapatan maskapai mengalami kenaikan meski dari sisi jumlah penumpang turun, namun ditopang dengan tingginya tarif pesawat tahun lalu. Gatot menilai dengan penurunan jumlah penumpang, biaya pelayanan bisa lebih dihemat.

"Karena Garuda menaikkan tarif, maskapai yang lain pun ikut karena ini semacam dapat durian runtuh," ucap Gatot.

Gatot mengatakan, penumpang tidak punya moda pilihan lain kecuali pesawat, terutama untuk aksesibilitas antarpulau selain Pulau Jawa yang memiliki substitusi melalui jalan tol dan kereta. Kondisi tingginya tiket pesawat, kata Gatot, tampaknya masih akan terjadi pada tahun ini.

"2020 ini juga sepertinya akan tetap tergantung pada Garuda. Kalau pemerintah tetap menginginkan Garuda untung, kemungkinan tarifnya tetap akan tinggi dan akan diikuti maskapai lain, tapi kalau Garuda bisa menurunkan tarifnya, maskapai lain pasti akan otomatis mengikuti," kata Gatot.

Gatot menyampaikan arahan pemerintah kepada maskapai menurunkan tarif hanya bersifat sementara. Sementara rata-rata secara total, tarif pesawat terbilang tinggi setiap tahunnya.

"Tarif tiket Lion rendah karena mereka juga menarik biaya bagasi. Jadi jatuhnya tetap tinggi juga," ucap Gatot.

Gatot menyampaikan sejumlah cara yang bisa dilakukan Garuda dalam menurunkan tarif pesawat yakni dengan cara menurunkan biaya-biaya yang selama ini mendominasi operasional maskapai, mulai dari avtur,  sewa pesawat, dan perawatan, termasuk harga dan bea masuk suku cadang.

Yang kedua, Garuda seharusnya mampu mencari pendapatan lain yang besar di luar pendapatan operasi, seperti dari kargo atau penyewaan wifii di pesawat yang pernah dicoba, namun bermasalah di awal 2019.

"Untuk yang kedua ini memerlukan waktu lama, jadi yang bisa dilakukan mungkin yang pertama yaitu pengurangan biaya," ungkap Gatot.

Gatot memandang pengurangan biaya memerlukan campur tangan pemerintah seperti soal avtur, bea masuk suku cadang, pengaturan operasional seperti slot time hingga jam buka bandara. Selain itu, pengurangan biaya juga bisa dilakukan dengan penghematan di internal Garuda, terutama di sisi pelayanan karena sisi keselamatan dan keamanan tidak boleh dihemat lantaran sudah ada aturannya.

"Kalau pelayanan dikurangi, biasanya penumpang yang protes," ucapnya.

Kabar baiknya, lanjut Gatot, sepertinya tahun ini akan mulai masuk penjual avtur lain di bandara selain Pertamina dan penguatan kurs rupiah terhadap dolar AS. Gatot mengatakan upaya mengurangi pengeluaran maskapai untuk beli suku cadang, bayar sewa pesawat, dan beli avtur, terpaku dengan  acuan kurs dolar. Gatot berharap kondisi ini mampu menekan harga avtur menjadi lebih rendah. kbc10

Bagikan artikel ini: