Intiland target rampungkan lima proyek pada 2020

Kamis, 30 Januari 2020 | 09:18 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: PT Intiland Development Tbk (DILD) menargetkan bisa merampungkan lima proyek selain juga menyiapkan beberapa proyek baru yang akan dirilis sepanjang tahun 2020 ini.

Sekretaris Perusahaan Intiland Development, Theresia Rustandi mengatakan, proyek yang berpotensi di segmen mixed-use & high rise. "Graha Golf, Low-Rise Residential The Rosebay, Praxis, Spazio Tower, dan beberapa tower apartemen di proyek Aeropolis," paparnya, Rabu (29/1/2020).

Sedangkan, secara total ia menyebutkan hingga tutup tahun lalu pihaknya memasarkan 18 proyek meliputi segmen apartemen, kawasan perumahan, perkantoran, pergudangan, dan kawasan industri.

Baca Juga: Ramai soal izin HGB dalam RUU Pertanahan, ini kata Intiland (DILD)

Selain itu, pada tahun ini DILD berencana meluncurkan beberapa produk baru. Mengutip dari website perusahaan berencana meluncurkan Pinang Apartement, proyek apartemen bertingkat  yang berlokasi di Pondok Pinang, Jakarta Selatan. Kemudian, Ruko Tierra yang berlokasi di Surabaya Barat.

Selanjutnya, Talaga Bestari, sebuah cluster perumahan baru yang berlokasi di Tangerang. Sementara itu, Perusahaan juga memulai proyek kawasan industri baru yang terletak di Jawa Tengah.

Banyaknya proyek-proyek yang dimiliki perseroan lantaran besarnya landbank yang dimiliki. Adapun hingga kuartal III-2019 aset DILD sebesar Rp 14,7 triliun. Sedangkan, dari kapitalisasi pasar Intiland mengutip dari RTI sebesar Rp 3,21 triliun.

Dari sisi landbank, Intiland memiliki seluas 2.000 hektare (ha). Lokasi tabungan lahan tersebut tersebar di beberapa kota seperti Jakarta, Tangerang, Banten, Surabaya, Mojokerto dan Jombang.

"Landbank terbesar ada di Maja, Banten dengan luas sekitar 1.000 hektare," lanjutnya.

Dari kinerja, pihaknya masih memasang target marketing sales secara konservatif yakni Rp 2,5 triliun. Sedangkan, untuk kinerja keuangan Theresia menyebut belum bisa menyampaikan akibat berlakunya PSAK 72.

"Ini bisa jadi game changer untuk developer Indonesia karena proses pengakuan yang tidak boleh lagi berdasarkan persentase penyelesaian bangunan, terutama bagi developer yang banyak portofolio high rise," pungkasnya. kbc10

Bagikan artikel ini: