Kebutuhan terus meningkat, pengusaha nilai impor daging mutlak dilakukan

Senin, 3 Februari 2020 | 08:43 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Kebutuhan impor daging di dalam negeri diperkirakan bakal melebihi proyeksi yang ditetapkan pemerintah. Pasalnya, data potensi produksi dinilai belum merefleksikan produktivitas sapi-sapi lokal secara riil.

Berdasarkan prognosis awal yang ditetapkan kementerian, produksi daging nasional dipatok di angka 2,32 juta ekor atau setara dengan 422.533 ton daging. Volume produksi ini meningkat 17.943 ton atau tumbuh 4,43% dibandingkan produksi pada 2019 yang diperkirakan mencapai 404.590 ton.

Di sisi lain, kebutuhan daging sapi nasional pun diperkirakan bakal tumbuh. Pada 2019, konsumsi daging sapi per kapita dipatok di angka 2,56 kilogram per tahun dengan kebutuhan nasional sebesar 686.271 ton. Sementara pada 2020, konsumsi per kapita diperkirakan menembus 2,66 kilogram per tahun dengan kebutuhan total sebanyak 717.150 ton.

Hal ini pun mengakibatkan pelebaran defisit neraca daging pada 2020 dibandingkan 2019. Jika defisit pada 2019 berada di angka 281.681 ton, maka angka defisit pada 2020 diperkirakan mencapai 294.617 ton. Berangkat dari kondisi tersebut, kebutuhan daging impor pun diperkirakan akan meningkat. Dengan perkiraan produksi sapi sebanyak 2,32 juta ekor atau setara dengan 422.533 ton daging, maka meat yield setiap ekornya berada di kisaran 180 kilogram per ekor.

Ketua Perhimpunan Peternak sapi dan Kerbau Indonesia (PPSKI) Teguh Boediyana menyebutkan dengan kondisi ini tambahan kuota impor diperlukan. Menurutnya melesetnya produksi daging sapi nasional dalam prognosis membuat kebutuhan rill dan data pemerintah tidak sejalan.

"Misal satu ekor (diasumsikan) bisa menghasilkan 170 kilogram. Tapi angka ini belum bisa dipastikan validitasnya mengingat sapi lokal ada yang ukurannya besar dan ada yang kecil," ujar Teguh seperti dikutip, Minggu (2/2/2020).

Teguh menjelaskan bahwa 170 kilogram merupakan angka produktivitas rata-rata untuk sapi yang memiliki bobot di atas 400 kg. Padahal, imbuhnya, sapi-sapi asal Nusa Tenggara dan Sulawesi cenderung memiliki bobot di kisaran 250 kg pada usia siap potong.

"Berat karkas (daging dan tulang) itu biasanya 50 persen dari bobot total. Sementara untuk daging saja, 70 persen dari karkas. Jadi kalau sapi-sapi lokal yang beratnya 250 kilogram, meat yield-nya sekitar 90 sampai 100 kilogram," paparnya.

Dia pun memperkirakan produksi daging sapi lokal berada di bawah perkiraan. Dengan demikian, dia menyatakan hal ini bakal memperlebar kebutuhan daging impor, tak terkecuali daging kerbau asal India.

"Impor daging India sangat mungkin menjadi lebih besar karena pasarnya sudah terbentuk. Secara riil kebutuhannya juga tinggi," kata dia.

Sekadar diketahui, alokasi awal daging impor pada 2020 sendiri dipatok pemerintah bakal tumbuh moderat. Hal ini terlihat dari kebutuhan impor sapi bakalan pada 2020 yang diperkirakan mencapai 550.000 ekor setara 110.000 ton daging atau meningkat dibandingkan perkiraan kebutuhan pada 2019 sebanyak 500.000 ekor.

Untuk impor daging, kebutuhan pemasukan daging kerbau India diproyeksi berjumlah 80.000 ton, sementara untuk daging sapi sebanyak 110.000 ton. Jika diakumulasi dengan potensi produksi daging sapi bakalan, maka pasokan daging impor pada 2020 diperkirakan mencapai 300.000 ton, meningkat dibandingkan kebutuhan tahun lalu yang berjumlah 291.980 ton. kbc10

Bagikan artikel ini: