Ini plus minus dampak Brexit bagi perekonomian Indonesia

Senin, 3 Februari 2020 | 12:17 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Keluarnya Britania Raya dari Uni Eropa atau Brexit dinilai bagaikan dua sisi mata pisau bagi perekonomian Indonesia. Artinya memiliki efek positif dan juga negatif.

Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Tauhid Ahmad mengatakan, dampak positif terjadinya brexit menguntungkan Indonesia dalam sektor perdagangan. Sebab, peluang ekspor pelaku usaha kian terbuka khususnya komoditas CPO ke Inggris dan tidak bergantung lagi kepada Uni Eropa.

Sementara itu, dampak negatifnya yakni perekonomian Benua Biru tersebut akan tertekan. Dengan kondisi tersebut, secara otomatis akan berdampak bagi Indonesia dikarenakan permintaan Uni Eropa terhadap produk dalam negeri akan berkurang.

"Kalau brexit, saya kira ada sisi positif dan negatif," kata dia, Minggu (2/2/2020).

Sebelumnya, Kepala Departemen Komunikasi Bank Indonesia (BI) Onny Widjanarko melihat bahwa brexit bukan hal yang perlu dikhawatirkan. Sebab, ada peluang yang bisa dihasilkan dari sisi perdagangannya.

"Tentu (ada manfaatnya), justru kita melihat bahwa (keadaan) brexit ini, tentu (Inggris Raya) harus membangun semua hubungan perdagangannya dengan banyak negara kembali, karena sebelumnya bisa dalam satu kesatuan dengan Uni Eropa. Jadi hal ini juga merupakan peluang bagi Indonesia atau negara-negara yang selama ini secara konvensional berdagang dengan Uni Eropa," ujar Onny.

Onny mengatakan, selain brexit, ada dua geopolitik dunia yang juga menimbulkan rasa khawatir pada ekonomi Indonesia. Diantaranya perang dagang Amerika Serikat (AS) dan China, serta resiko geopolitik AS dengan Iran. Sehingga dia mengimbau untuk selalu waspada pada ekonomi dunia.

"Jadi yang saya lihat, kita harus tetap waspada pada ekonomi dunia, adanya risiko geopolitik, dan juga tantangan-tantangan (seperti Brexit) yang harus dihadapi oleh Indonesia kedepannya," jelas Onny.

Sementara itu Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyatakan, penyebaran virus corona lebih berbahaya dampaknya ke ekonomi ketimbang lepasnya Inggris dari Uni Eropa atau Brexit. Sebab, sejauh ini belum ada penangan pasti akan penyebaran virus berasal dari China tersebut.

"Mungkin kita sekarang lebih konsen mengenai corona, karena magnitude pengaruhnya ini belum seattle karena kita belum tahu penyebarannya, tingkat kematian yang meningkat secara cepat, itu mungkin yang memberikan ketidakpastian," kata Sri Mulyani, akhir pekan lalu.

Sri Mulyani mengatakan, peristiwa Brexit sendiri sudah lebih jauh diantisipasi oleh pelaku pasar dan ekonomi. Sehingga secara dampak tidak begitu besar dirasakan di sejumlah negara, termasuk Indonesia.

"Kalau Brexit sudah lama prosesnya hanya pembahasannya mengenai kalau dia hard brexit berarti seluruh hal yang berhubungan negosiasi antara UK dan Eropa itu menjadi sesuatu," kata dia. kbc10

Bagikan artikel ini: