Anjlok 16%, Pertamina raup laba bersih US$2,1 miliar di 2019

Selasa, 4 Februari 2020 | 09:10 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: PT Pertamina (Persero) mencatat laba bersih perusahaan sebesar US$ 2,1 miliar pada 2019. berdasarkan prognosa kinerja keuangan Pertamina di tahun buku 2019, angka ini diproyeksikan turun 16% dibandingkan tahun sebelumnya.

Direktur Perencanaan Investasi dan Manajemen Risiko Pertamina Heru Setiawan menjelaskan, pada tahun 2017 dan 2018, perolehan laba bersih Pertamina stabil di angka US$ 2,5 miliar.

"Sebagai catatan di sini, angka 2019 itu adalah angka prognosa karena ini belum diaudit, jadi ada banyak asumsi maupun diskresi," kata Heru dalam Rapat Dengar Pendapat Umum bersama Komisi VI DPR RI, Senin (3/2/2020).

Penurunan laba bersih itu tak lepas dari capaian pendapatan Pertamina yang juga anjlok dari US$ 57,9 miliar pada tahun 2018, menjadi US$ 52,4 miliar dalam prognosa tahun lalu.

Sejalan dengan itu, pendapatan sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi alias EBITDA juga menurun. Pada tahun 2018, EBITDA Pertamina berada di angka US$ 9,2 miliar, sedangkan prognosa di 2019 hanya menyentuh US$ 8,2 miliar.

Dalam prognosa 2019 tersebut, Heru juga mengungkapkan bahwa total aset Pertamina turun dari US$ 64,7 miliar menjadi US$ 63,8 miliar.

Menurut Heru, capaian tersebut tak lepas dari penurunan harga minyak mentah Indonesia alias Indonesia Crude Price (ICP) menjadi US$ 62,3 per barel pada 2019. Sebelumnya, ICP tercatat US$ 67,5 per barel sepanjang tahun 2018.

"Kami selalu mengacu pada ICP, dan 2019 mengalami penurunan," ujarnya.

Penurunan ICP tersebut berdampak pada pendapatan Pertamina yang datang dari sektor hulu. Meski begitu, Heru mengatakan bahwa pendapatan Pertamina mayoritas disokong dari sektor hilir.

"Revenue terbesar ada di downstream, namun sebagian besar profit dari hulu," ungkapnya tanpa menyebut detail porsi pendapatan dan laba yang datang dari sektor hulu dan hilir Pertamina. kbc10

Bagikan artikel ini: