Produksi padi tahun lalu anjlok 4,6 juta ton GKG

Selasa, 4 Februari 2020 | 20:18 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Produksi padi tahun sepanjang tahun 2019 diperkirakan sebesar 54,6 juta ton gabah kering giling (GKG) atau mengalami penurunan hingga 4,6 juta ton atau 7,6% dibandingkan tahun 2018 sebesar 56,54 juta ton GKG.Adapun produksi padi di Provinsi Jawa Timur (Jatim) tahun 2019 sebesar 950.934 GKG atau turun 6,1%.

"Jika dikonversikan menjadi beras untk konsumsi pangan penduduk, produksi beras pada 2019 sebesar 31,31 juta ton atau mengalami penuruanan sebanak 2,63 juta ton atau 7,75% dibandingkan tahun 2018 ," ujar Kepala BPS Suhariyanto ketika mengumumkan produksi dan luas panen padi di Jakarta, Selasa (4/2/2020).

Suhariyanto melaporkan data tersebut di gedung Kementerian Pertanian. Selain, Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo (SYL), pada kesempatan itu juga dihadiri Menteri Agraria Tata Ruang Sofyan Djalil dan Menko Kemaritiman dan Investasi Luhut B. Panjaitan.

Menurut Suhariyanto anomali cuaca yang terbilang ekstrem sepanjang tahun 2019 menjadi penyebab utama penurunan produksi padi. Di sejumlah daerah sentra produsen beras terjadi bencana alam sehingga menghambat produksi beras.

"Awal Januari hingga Februari ada curah hujan yang kuat dan kita mendapatkan laporan banjir di berbagai daerah. Kemudian di pertengahan tahun 2019 Juli-Desember terjadi kemarau dan kekeringan luar biasa," ujar Suhariyanto.

Suhariyanto menambahkan penurunan produksi padi tahun 2019 relatif besar terjadi di Provinsi Sulawesi Selatan , Jawa Timur, Jawa Barat dan Sumatera Selatan. Alhasil penurunan produksi padi terbesar terjadi di tiga provinsi yakni Jawa Barat dan Jawa Tengah dibandingkan tahun 2018.

"Provinsi di Jawa Timur, produksi padi tahun 2019 sebesar 9.580.934 juta ton GKG.Padahal di tahun 2018, angka produksi mencapai 10.203.213 ton GKG atau anjlok hingga 622.279 ton," terangnya.

Sementara luas panen 2019 juga mengalami penurunan di tahun 2019 yaitu sebanyak 10,68 juta hektare (ha), turun 6,15% atau setara 0,7 juta ha dibandingkan tahun 2018 sebanyak 11,38 juta ha. Menurut Suhariyanto pada tahun 2019 situasinya memang kurang menguntungkan bagi pertanian. Sebab, cuaca ekstrem menyebabkan berbagai bencana alam yang menghambat panen.

"Awal Januari hingga Februari ada curah hujan yang kuat dan kita mendapatkan laporan banjir di berbagai daerah. Kemudian di pertengahan tahun 2019 Juli-Desember terjadi kemarau dan kekeringan luar biasa," kata dia.

Perhitungan komprehensif berkaitan produksi padi ini luas baku sawah yang dilakukan BPS ini melibatkan BPPT, Kementerian ATR, BIG serta LAPAN. Hal ini dilakukan untuk memperbaiki metodologi perhitungan luas panen dengan menggunakan metode Kerangka Sampel Area.

Mengenai hal ini, Sofyan Djalil mengatakan luas lahan baku sawah di tahun 2019 lebih besar dibandingkan tahun sebelumnya karena ada beberapa yang tidak terdata dengan tepat. Salah satu contohnya adalah lahan sawah yang tergenang air.

"Memang kita menggunakan citra satelit, tetapi lahan sawah yang terendam air tidak terekam datanya karena diambil datanya pada saat musim hujan. Makanya banyak daerah yang melayangkan protes, akhirnya setelah kita cek lagi ternyata yang terendam itu adalah lahan sawah," jelasnya.

Agar data yang dikeluarkan valid, dilakukan verifikasi ulang dengan menggunakan metode KSA dan citrasatelit. "Jadi kita lakukan verifkasi antar kementerian disejumlah daerah di Jawa Timur, Lampung, Yogyakarta, Sulawesi Selatan dan Bangka Belitung," sebut Sofyan.

Apabila dirinci, luas lahan baku sawah terbesar terdapat di Jatim (1,21 juta ha), Jawa Tengah (1,04 juta ha), Jawa Barat (928.218 ha), Sulawesi Selatan (654.818 ha) dan Sumatera Selatan (470.602 ha). "Hasil ini telah disepakati oleh semua tim teknis, sehingga yang menjadi data acuan utama," pungkasnya.Kbc11

Bagikan artikel ini: