BPS: Pertumbuhan ekonomi RI tahun lalu hanya 5,02 persen

Rabu, 5 Februari 2020 | 18:51 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat laju pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2019 sebesar 5,02 persen. Angka ini lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, 5,17 persen, dan merupakan yang terendah sejak 2015 di mana ekonomi cuma tumbuh 4,88 persen.

Capaian tersebut juga lebih rendah dari asumsi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2019 yang sebesar 5,3 persen.

Kepala BPS Suhariyanto mengungkapkan pertumbuhan ekonomi kuartal IV 2019 di bawah 5 persen, yakni hanya 4,97 persen dibandingkan dengan kuartal IV 2018 lalu. Sementara, pertumbuhan ekonomi kuartal IV 2019 terhadap kuartal III 2019 minus 1,74 persen.

"Jadi secara kuartal terkontraksi 1,74 persen, secara tahunan melambat 4,97 persen, dan secara akumulasi sebesar 5,02 persen," kata Suhariyanto, Rabu (5/2/2020).

Ia mengatakan perlambatan ekonomi dalam negeri dipengaruhi oleh ketidakpastian global. Hal ini juga sejalan dengan perlambatan sejumlah negara lain, seperti Amerika Serikat (AS), Singapura, dan Korea Selatan.

"Mempertahankan ekonomi di 5 persen di situasi sekarang tidak mudah. Jadi saya pikir pertumbuhan ekonomi 2019 sebesar 5,02 persen di situasi yang menunjukkan pelemahan secara global ini masih dibilang cukup baik," ujar Suhariyanto.

Ia menjabarkan, ekonomi AS hanya tumbuh 2,3 persen pada kuartal IV 2019, melambat dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu sebesar 2,5 persen. Sementara, Singapura hanya tumbuh 0,8 persen dari sebelumnya yang mencapai 1,3 persen dan Korea Selatan hanya 2,2 persen dari 3 persen.

Dari sisi lapangan usaha, Suhariyanto menyatakan sektor jasa lainnya mencatat pertumbuhan tertinggi, yakni 10,55 persen secara tahunan. Namun, karena porsinya terhadap PDB hanya sekitar 1,95 persen, kontribusinya tak signifikan mendongkrak pertumbuhan ekonomi.

Sementara itu, porsi sektor manufaktur masih dominan terhadap PDB dengan nilai 19,7 persen. Kendati demikian, pertumbuhannya hanya tercatat 3,8 persen, melambat dari posisi 2018 yang mencapai 4,27 persen.

Sebelumnya, Menteri Keuangan Sri Mulyani memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia melambat hanya 5,05 persen. Menurutnya, perlambatan ini dipengaruhi kondisi global yang juga memburuk beberapa waktu terakhir.

Sejumlah sentimen negatif yang menghantui ekonomi dunia, antara lain perang dagang Amerika Serikat (AS) dan China, proses keluarnya Inggris dari Uni Eropa (Brexit), hingga pemakzulan Presiden AS Donald Trump. kbc10

Bagikan artikel ini: