Skenario pemerintah tahan pelemahan ekonomi di kuartal I

Kamis, 6 Februari 2020 | 10:31 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Pemerintah tengah menyusun rancangan skenario untuk mengantisipasi pelemahan ekonomi di kuartal pertama tahun 2020.

Pasalnya, sentimen negatif seperti wabah virus corona dikhawatirkan berdampak pada laju pertumbuhan ekonomi domestik, meski hingga saat ini pemerintah belum dapat mengkalkulasinya secara riil.

Tahun lalu, laju pertumbuhan ekonomi melambat menjadi hanya 5,02%, terendah sejak 2015. Pemerintah sendiri menargetkan ekonomi tahun ini dapat mencapai 5,3%, tetapi virus corona memunculkan pesimistis target tersebut dapat tercapai.

“Untuk kuartal I-2020 nanti perlu kita lihat dulu karena ada sentimen virus Korona ini. Tapi kita juga belum bisa mengevaluasi pengaruhnya karena masih terlalu dini,” kata Menteri Koordinator bidang Perekonomian Airlangga Hartarto di kantornya, Rabu (5/2/2020).

Kendati begitu, dia mengaku, pemerintah tetap menyiapkan skenario-skenario untuk menahan penurunan laju ekonomi, terutama dari sektor pariwisata akibat sentimen virus corona. Salah satunya dengan mengevaluasi harga tiket pesawat dan melihat kemungkinan pemberian subsidi tarif tiket pesawat oleh pemerintah.

“Kita akan lihat apakah di daerah-daerah tujuan turis seperti Bali, Sulawesi Utara, Kepulauan Riau, apakah bisa dibuatkan program pemerintah. Salah satunya sedang dievaluasi tiket pesawat diturunkan atau disubsidi sehingga turis domestik bisa kita dorong ke atas,” kata Airlangga.

Ia mengatakan, pemerintah juga akan mendorong agar aktivitas kementerian dan lembaga bisa diarahkan pada daerah-daerah wisata terdampak tersebut untuk mengompensasi penurunan turis. “Misalnya dengan mendorong penggunaan sarana-saran MICE (Meeting, Incentive, Convention, and Exhibition) di wilayah itu,” imbuhnya.

Selain itu, Airlangga mengatakan, pemerintah juga akan fokus pada sektor-sektor industri yang masih menyumbang pertumbuhan tinggi pada perekonomian. Di antaranya industri makanan dan minuman, farmasi dan obat-obatan, serta perdagangan kendaraan bermotor.

“Itu sektor-sektor yang masih tumbuh tinggi sehingga kita akan fokus lebih taham lagi karena artinya sektor itu memiliki daya tahan tinggi di tengah ketidakpastian perdagangan global sepanjang 2019 lalu,” tandas Airlangga.

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Panjaitan menilai pertumbuhan ekonomi pada tahun ini akan terimbas virus corona. Saat ini, pemerintah masih mengkalkulasi keseluruan dampak dari pendemi yang bepusat di Wuhan, Tiongkok tersebut.

"Kalau pertumbuhan bisa 5% lebih sedikit dengan dampak virus corona, ini sudah bagus sekali," ujar Luhut.

Pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi dalam APBN 2020 mencapai 5,3%. Rancangan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020-2024 bahkan menargetkan rata-rata pertumbuhan ekonomi dapat mencapai 5,4 hingga 6,0%.

Menurut Luhut, perekonomian Indonesia akan turut terdampak karena sejumlah industri besar di negara tersebut tak beroperasi sementara akibat wabah tersebut. Akibatnya, kegiatan ekspor dan impor diperkirakan terganggu.

Tiongkok saat ini merupakan negara asal impor dan tujuan ekspor nonmigas terbesar Indonesia. Total ekspor ke negara tersebut pada tahun lalu mencapai US$ 25,85 miliar, sedangkan impor mencapai US$ 44,58 miliar.

Saat ini, pemerintah telah menyetop sementara impor produk hewan, tetapi tetap membuka keran masuk produk lain, termasuk buah-buahan asal Tiongkok. Namun, pemerintah akan terus memantau perkembangan penyebaran virus tersebut dan siap menyesuaikan kebijakan.

Luhut menekankan pendemi yang berpusat Provinsi Hubei ini tidak hanya berpengaruh pada Indonesia tetapi perekonomian secara global. Negara Tembok Raksasa ini merupakan negara ekonomi terbesar kedua setelah AS dengan kontribusi mencapai 17 % terhadap perekonomian atau Produk Domestik Bruto (PDB) dunia. kbc10

Bagikan artikel ini: