Grand Inna Ballroom berkapasitas 1.125 orang siap beroperasi akhir tahun ini

Selasa, 11 Februari 2020 | 16:45 WIB ET
Dirut PT Hotel Indonesia Natour (Persero) Iswandi Said (enam dari kanan) didampingi Dirut PT Tata Bumi Raya Jamhadi (tujuh dari kiri) saat ground breaking Grand Inna Ballroom.
Dirut PT Hotel Indonesia Natour (Persero) Iswandi Said (enam dari kanan) didampingi Dirut PT Tata Bumi Raya Jamhadi (tujuh dari kiri) saat ground breaking Grand Inna Ballroom.

SURABAYA, kabarbisnis.com: Masyarakat Surabaya dan Jawa Timur bakal memiliki pilihan ruang pertemuan baru di pusat Kota Surabaya. Hal ini seiring dengan mulai dibangunnya ballroom berkapasitas sekitar 1.125 orang oleh Grand Inna Tunjungan Hotel Surabaya.

Acara gound breaking sebagai tanda dimulainya pembangunan fasilitas bernama Grand Inna Ballroom tersebut ditandai dengan pemecahan kendi ke alat berat oleh Direktur Utama PT Hotel Indonesia Natour (Persero) Iswandi Said bersama Jamhadi selaku Direktur Utama PT Tata Bumi Raya, main contractor proyek ini, serta jajaran direksi PT Hotel Indonesia Natour (Persero), dan Ketua Kadin Kota Surabaya Muhammad Ali Affandi, Selasa (10/2/2020).

Direktur Utama PT Hotel Indonesia Natour (Persero), Iswandi Said mengatakan, terwujudnya pengembangan fasilitas ballroom tersebut tak lepas dari kajian yang telah dilakukan perusahaan selain untuk memperluas pasar, juga untuk meningkatkan pendapatan perusahaan yang juga Badan Usaha Milik Negara (BUMN) tersebut.

"Dari kajian lokasi, pasar, dan lahan yang ada kita memilih untuk pengembangan ballroom. Karena untuk Surabaya sendiri pasokan MICE (meetings, incentive, conference and exhibition) masih kurang, sebaliknya untuk kamar hotel sudah berlebih," kata Iswandi usai acara ground breaking Grand Inna Ballroom, Selasa (11/2/2020).

Grand Inna Ballroom sendiri dibangun di atas lahan seluas 5.000 meter persegi yang berlokasi di belakang Grand Inna Tunjungan Hotel Surabaya, tepatnya akan menghadap ke Jalan Simpang Dukuh. Fasilitas ini memiliki kapasitas sekitar 1.250 orang dan akan dibangun tiga lantai atau total seluas 8.920 meter persegi, dimana dua lantai terbawah merupakan parkir kendaraan yang diperkirakan menampung sekitar 166 unit kendaraan.

"Sesuai dengan perjanjian dengan kontraktor, pembagunan akan memakan waktu paling lama 12 bulan, atau bahkan diupayakan pada Desember 2020 nanti sudah bisa dioperasikan, karena banyak kegiatan yang dilakukan di akhir tahun, seperti meeting, wedding, pameran dan sebagainya," ujar Iswandi yang menyebut investasi yang dikucurkan untuk pembangunan ballroom itu mencapai Rp 73 miliar.

Ditambahkannya, pembangunan Grand Inna Ballroom merupakan salah satu upaya untuk mendukung pengembangan pariwisata di Indonesia, khususnya Surabaya dan Jawa Timur. "Surabaya sendiri dicanangkan menjadi hub MICE Jawa Timur bahkan Indonesia Timur, dan kami PT Hotel Indonesia Natour (Persero) ingin ikut berperan di sanauntuk mengakomodasi segala kegiatan untuk memacu sektor pariwisata," jelasnya.

Iswandi juga berharap langkah itu akan mendongkrak pendapatan perusahaan dari sektor MICE. Berdasar catatannya, hotel-hotel yang dikelolanya yang memiliki fasilitas ballroom skala besar, mampu menyumbang pendapatan sekitar 60 persen, sedangkan sisanya dari kamar hotel.

Direktur Utama PT Tata Bumi Raya, Jamhadi menambahkan, dengan dibangunnya Grand Inna Ballroom tersebut, akan menjadi tambahan dari sarana kota di Surabaya yang memadai dan sangat ditunggu oleh para pelaku usaha. Pasalnya, selama ini pasokan ballroom di Surabaya masih terbatas, padahal permintaan ckup besar.

"Kami senang ikut berperan bersama PT Hotel Indonesia Natour (Persero) karena ikut membangun negeri sesuai dengan prinsip BUMN yakni sebagai agen pembangunan, dan tentu dengan nilai kontrak lebih hemat dari pagu. Meski demikian, sebagai green contractor dan green building kami berupaya untuk bisa menyelesaikan pekerjaan tepat waku dan tepat mutu," ujarnya.

Jamhadi juga menambahkan, saat ini Surabaya tercatat ada sekitar 42.000 unit kamar hotel dengan 151 hotel dari berbagai kelas. Dari angka tersebut, tingkat keterisian (okupansi) rata-rata sebesar 57,5% hingga 60%.

"Dengan adanya ballroom yang baru di pusat kota Surabaya ini, tentu akan memberikan multiplier effect bagi industri di sekitarnya, salah satunya akan bisa mengangkat okupansi hotel-hotel, karena tak semua tamu bisa ditampung menginap di sini," ujarnya. kbc7

Bagikan artikel ini: