Virus corona bikin neraca perdagangan RI negatif di awal tahun

Selasa, 11 Februari 2020 | 20:42 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Serangan wabah virus corona mengakibatkan sebagian aktivitas perekonomian di China terhenti. Kementerian Perdagangan (Kemendag) pun mengakui situasi ini mulai berdampak negatif  terhadap neraca perdagangan Indonesia di awal tahun 2020.

"Corona ini kan sudah muncul sejak Desember. Perdagangan selama Januari saya perkirakan sudah terdampak (ekspor dan impor)," kata Kepala Badan Pengkajian dan Pengembangan Perdagangan (BP3) Kemendag Kasan Muhri dalam diskusi di Jakarta, Selasa (11/2/2020).

Kasan menjelaskan, kondisi tersebut setidaknya telah diperlihatkan dalam laporan perdagangan sejumlah negara mitra dagang China seperti Brasil, Korea Selatan, dan Vietnam. Penurunan ini terjadi lantaran aktivitas produksi di China yang terganggu akibat wabah virus Corona.

"Penurunan terbesar terjadi di Brasil yang sampai dua digit. Korea Selatan juga mengalami penurunan ekspor impor dan dalam rilisnya mereka menyebutkan virus corona sebagai penyebab. Sebagian aktivitas di China terhenti sehingga otomatis transaksi terpengaruh," tuturnya.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan China merupakan pangsa pasar ekspor terbesar Indonesia sepanjang 2019 dengan nilai perdagangan mencapai US$25,85 miliar. Negeri Panda pun menjadi pangsa impor terbesar non migas dengan transaksi sebesar US$44,58 miliar.

Kasan pun menyebutkan perlunya antisipasi kemungkinan turunnya pertumbuhan ekonomi nasional akibat wabah virus corona yang menekan perekonomian China. Mengutip proyeksi Bank Dunia, Kasan menyebutkan koreksi pertumbuhan ekonomi China sebesar 1 persen bisa mengakibatkan penurunan ekonomi Indonesia sebanyak 0,3%.

Dia juga memasang perkiraan konservatif terhadap  perekonomian Indonesia, di mana produk domestik bruto RI bisa terkoreksi 0,23% untuk setiap 1% penurunan di China. Kasan menambahkan wabah corona juga memukul sektor perdagangan di sejumlah negara seperti Brasil. Bahkan perdagangannya turun hingga dua digit. ”Ini berdasarkan fakta-fakta yang kami temukan secara ilmiah,” terangnya.

Hal serupa juga terjadi di Korea Selatan dan Taiwan. Karena itu dia menilai Indonesia harus sesegera mungkin mengalihkan pasar ekspor dan impornya ke negara lainnya. Beberapa mitra dagang yang menurutnya dapat dijadikan pasar pengganti seperti Amerika Latin dan negara kawasan Asia Selatan. Hanya saja potensinya masih perlu dikaji lebih lanjut oleh tim Kemendag.

Kesempatan sama ekonom dari  Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Mohammad Faisal menilai  Indonesia punya potensi untuk ekspor kelapa sawit ke Timur Tengah sebagai pengalihan pasar ekspor ke China 

"Kita kan banyak kelapa sawitnya di-banned, Timur Tengah enggak melihat ke sana, jad i lebih gampang masuk. Uni Eropa dan Amerika tarifnya lebih rendah, tapi banyak tantangan di luar itu. Kalau Timur Tengah, tarifnya sedikit lebih tinggi, tapi di luar itu tidak banyak dampak berarti," ujarnya.

Faisal menambahkan, Indonesia punya potensi besar komoditas kopi dan kakao di pasar dunia. Kesempatan itu mesti dimanfaatkan pemerintah untuk fokus menggenjot ekspor komoditas kopi dan kakao. "Industri agribisnis kita punya potensi tapi belum termanfaatkan dengan baik. Misalnya kopi dan kakao, kalau itu bisa dimaksimalkan potensinya lebih tinggi dan jadi nomor dua,” pungkasnya.kbc11

Bagikan artikel ini: