Impor gula konsumsi sulit dibendung

Rabu, 12 Februari 2020 | 23:49 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Asosiasi Gula Indonesia (AGI) mengungkapkan neraca gula di tahun 2020 dan awal 2021 berpotensi defisit menyusul prediksi produksi gula kristal putih (GKP) petani sulit mengimbangi kebutuhan gula konsumsi nasional.

Direktur Eksekutif AGI Budi Hidayat memproyeksikan kebutuhan impor GKP untuk konsumsi pada 2020 dapat mencapai 1,33 juta ton.Budi mengemukakan potensi defisit neraca gula pada 2020 dapat mencapai 29.000 ton.Dengan produksi sepanjang tahun yang diperkirakan turun dari 2,22 juta ton pada 2019 menjadi 2,05 juta ton pada 2020.

Stok awal gula pada 2020 sendiri berada di angka 1,08 juta ton. Di sisi lain, konsumsi pada tahun ini diproyeksi menembus 3,16 juta ton, naik dibandingkan dengan konsumsi pada 2019 yang berjumlah 3,09 juta ton."Untuk pemenuhan pada tahun 2020 dan persiapan awal 2021 diperlukan impor gula untuk konsumsi langsung sebesar 1,33 juta ton," kata Budi di Jakarta,Rabu (12/3/2020)

Dikatakan importasi gula mentah (GM) untuk GKP dapat dilakukan pada akhir masa giling 2020 guna mengatasi defisit untuk gula konsumsi.Pemenuhan kebutuhan awal 2021 pun disebutnya perlu menjadi pertimbangan demi memenuhi kebutuhan gula jelang hari raya besar keagamaan yang diperkirakan jatuh pada semester I pada tahun depan.

Menurutnya impornya boleh didatangkan dari mana saja. Namun umumnya dari Thailand dan Australia. "Hanya saja sampai saat ini kita belum membuka impor dari Brazil karena jaraknya terlalu jauh,” terang Budi.

Budi juga menyebutkan  untuk pengolahan raw sugar menjadi GKP sebaiknya diberikan kepada pabrik gula (PG) berbasis tebu. Sedangkan pasar GKP dan gula kristal rafinasi (GKR) tetap perlu dipisahkan.

Sebab, ada perbedaan selisih biaya bahan baku berbasis tebu dan GM sekitar Rp 1.500 per kg dan biaya proses sekitar Rp 2.000 per kg  gula.  Karena itu, ketiga jenis gula ini tak dapat dipersaingkan dalam pasar yang sama.

Staf Ahli AGI Yadi Yusriadi menyebutkan kebutuhan gula bulanan berkisar di angka 250.000 ton setiap bulannya.Sementara selama Ramadan dan jelang Idulfitri, kebutuhan bulanan bisa bertambah 150.000 ton.

"Kalau impor tidak ditata dengan baik bisa menyebabkan defisit.Seperti sekarang kondisi tersebut mulai terasa, harga gula terpantau sudah mencapai Rp 13.000 sampai Rp 14.000 per kg dan sulit ditemukan di pasaran," pungkasnya.kbc11

Bagikan artikel ini: