Pacu kinerja UMKM, Bank Jatim ajukan KUR Rp500 miliar

Kamis, 13 Februari 2020 | 05:38 WIB ET

SURABAYA - PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Timur Tbk atau Bank Jatim tahun ini mengajukan Kredit Usaha Rakyat (KUR) ke pemerintah pusat sebesar Rp500 miliar. Keberadaan KUR tersebut diharapkan mampu meningkatkan kinerja usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) di Jatim. 

Pgs Direktur Utama Bank Jatim, Ferdian Timur Satyagraha mengatakan, pada tahun sebelumnya, pihaknya sudah mengajukan KUR. Namun pengajuan tersebut tidak diterima lantaran Gagal Bayar atau NPL (Non Performing Loan) Bank Jatim diatas 5 persen.

”Tahun ini kami optimistis pengajuan KUR kami akan diterima mengingat NPL kami sudah dibawah 5 persen," katanya, Selasa (11/2/2020).

Dari pengajuan KUR tersebut, kata Ferdian, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) meminta Bank Jatim melengkapi sejumlah persyaratan. Salah satunya mengenai Rencana Bisnis Bank (RBB). Oleh bank berkode saham BJTM tersebut, permintaan itu dipenuhi. "Jadi RBB ini semacam rencana pengucuran KUR Bank Jatim. OJK minta agar Bank Jatim memiliki data terkait daerah mana saja yang akan dapat KUR. Dan itu sudah kami siapkan semua," tandas Ferdian. 

Diketahui, selama 2019 Bank Jatim berhasil mencatat kucuran kredit sebesar Rp38,35 triliun, atau naik 13,16 persen dibanding tahun 2018 (year on year/yoy). Pertumbuhan kredit tersebut diikuti dengan penurunan rasio Non Performing Loan (NPL) secara signifikan yaitu sebesar 2,77 persen.

Sektor konsumsi berkontribusi paling tinggi dari total kredit, yakni sebesar Rp23,10 triliun atau tumbuh 7,12 persen (yoy). Sedangkan pertumbuhan paling berasal dari sektor komersial sebesar Rp9,23 triliun atau tumbuh 27,11 persen (yoy). Pertumbuhan yang tinggi tersebut didongkrak dari pertumbuhan kredit sindikasi yang signifikan sebesar 118,98 persen. "Tahun ini kami menargetkan pertumbuhan kredit mencapai 14,45 persen," ujar Ferdian.

Sebelumnya, Gubernur Jatim, Khofifah Indar Parawansa berharap Bank Jatim bisa kembali menjadi penyalur KUR. Pihaknya tidak memungkiri bahwa NPL Bank Jatim sempat tinggi. Menurutnya, hal itu karena dulu ada investasi untuk infrastruktur di luar Pulau Jawa yang kemudian mandek. Hal itu mempengaruhi NPL Bank Jatim secara keseluruhan. “Saya sudah mengkomunikasikan dengan gubernur BI (Bank Indonesia), dengan OJK supaya BPD Jatim bisa kembali untuk menjadi penyalur KUR,” kata Khofifah. 

Bagikan artikel ini: