Jadikan keberhasilan program KB jadi contoh pengurangan angka stunting

Kamis, 13 Februari 2020 | 09:19 WIB ET
Bungaran Saragih
Bungaran Saragih

JAKARTA, kabarbisnis.com: Stunting atau masalah gizi kronis menjadi persoalaan antar generasi yang sudah berlangsung lama. Bahkan  Indonesia menempati peringkat dua tertinggi di Asia Tenggara setelah Burma.

Padahal pemerintah menargetkan penurunan angka stunting atau masalah gizi kronis berkurang 2,5% setiap tahunnya. Keberhasilan program nasional Keluarga Berencana ,(KB) yang dijalankan di rezim Orba dapat menjadi contoh pengurangan angka stunting.

Sebagai informasi saja stunting bagian dari perawakan pendek ,disebabkan kondisi kesehatan atau kekurangan nutrisi terutama kualitas dan kuantitas asupan makan yang salah .Akibatnya,dalam jangka panjang bukan hanya memiliki IQ yang rendah, anak ini akan mengalami penurunan toleransi glukosa, penyakit jantung koroner ,hipertensi.

Bungaran Saragih , Menteri Pertanian di pemerintahan Megawati Sukarno Putri mengatakan, stunting menjadi masalah bukan hanya di Indonesia , namun juga dunia.

“Masalah stunting adalah masalah sangat komplek. Penting dan urgen, serta komplek," ujar Bungaran Saragih saat diskusi Wujudkan SDM Unggul Indonesia melalui Pengendalian Stunting di Jakarta, Rabu (12/2/2020).

Usaha tersebut tidak cukup hanya dari sektoral yakni Kementerian Pertanian, Kementerian Kesehatan, BKKBN, Pemda, dan pemerintah puat, tapi juga non pemerintah. Bisa organisasi sosial, keagamaan, bahkan politik.

“Harus banyak strategi dan kebiakan untuk menangani stunting. Artinya perlu ada kebijakan dan strategi nasional,” ujarnya.

Bungaran mengkhawatirkan jika pemerintah tidak segera bertindak membuat kebijakan dan strategi mengatasi stunting, maka Indonesia akan semakin ketinggalan. Data statistik menunjukkan di Asean posisi Indonesia nomor 2 tertinggi jumlah bayi yang stunting di Asia Tenggara.

Indonesia tidak lebih baik dari Myanmar dan Kamboja.Peringkat jumlah balita yang mengalami stunting di Indonesia lebih rendah dibanding jumlah bayi yang mengalami stunting di Laos.

Data lain juga menunjukkan dalam 6 tahun terakhir, terjadi penurunan angka stunting 1%. Menurun Bungaran jika saat ini ada 27% dari populasi balita. Katakanlah dengan target penurunan balita yang mengalami stunting sebesar 20,% maka dibutuhkan 10 tahun untuk mencapainya.

Dalam strategi pengurangan stunting, Bungaran melihat perlu ada peta yang detil dan komplit. Peta mengenai siapa yang menjadi sumber dan penyebab stunting, serta dimana saja lokasi yang stunting.

“Ini pertanyaan pokok yang harus dipetakan. Dengan menjawab pertanyaan itu, kita baru bisa merumuskan strategi dan mobilisasi sumber daya untuk menanggulangi stunting. Memang rumit dan jelimet, petanya bukan dua dimensi, tapi tiga atau empat dimensi,” tegasnya..

Dalam peta tersebut menurut mantan Menteri Pertanian itu, mencakup peta sektoral, intra sektoral dan intra regional, bahkan peta vertical.

“Kita bisa belajar dari pengalaman penanggulangan jumlah pertumbuhan penduduk seperti KB yang cukup berhasil. Barangkali kalau kita mau menyelesaikan masalah stunting, pengalaman itu sangat berguna, sekarang ini bagaimana mempercepat stunting bisa berkurang dari negeri kita. Ini perlu leadership, bukan hanya satu tangan, tapi di pemerintah dan non pemerintah. Seperti kita menyelesaikan keluarga berencana,” tutur Bungaran.

Kesempatan sama Direktur Gizi Masyarakat, Kementerian Kesehatan Rr. Dhian Probhoyekti Dipo mengatakan pemerintah sudah membuat Peraturan Presiden dalam menangani kasus stunting. Dalam Perpres ada 23 kementerian dan lembaga yang berperan dalam mengatasi stunting dan masing-masing bekerja titik yang sama, tapi programnya sesuai tupoksinya.

“Pada Tahun 2020 ada 260 lokus stunting. Jadi semua kementerian/lembaga pada focus yang sama sesuai tugas-tugasnya. Dulu masing-masing, sekarang bersama-sama,” katanya.

Pada Tahun 2020, pemerintah menargetkan dari 27,7 % kasus stunting menjadi 24,1% dengan locus 260 kabupaten/kota. Kemudian pada tahun 2024 target stunting menjadi hanya 14% dengan locus stunting semua kabuapten/kota dengan kegiatan yang sama.

Beberapa pendakatan multi sektoral yakni, pendekatan intervensi gizi spesifik oleh Kementerian Kesehatan. Kemudian pendekatan intervensi gizi sensitif oleh kelembagaan/lembaga lain. Selanjutnya pendekatan di lingkungan.

Strategi nasional dalam percepatan pencegahan stunting adalah dengan menjadikannya program prioritas nasional, memperkuat konvergensi pusat dan daerah, perubahan prilaku masyakarta, meningkatkan akses makan, begizi dan seimbang dan mendorong ketahanan pangan.kbc11

Bagikan artikel ini: