Terbanyak dari Natuna, RI miliki 1,5 persen cadangan gas dunia

Selasa, 18 Februari 2020 | 08:36 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Indonesia memiliki cadangan terbukti minyak dan gas (migas), meski peringkatnya kecil dibanding negara lain di dunia.

Menurut mantan Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arcandra Tahar, cadangan gas Indonesia hanya 1,5 persen dari cadangan terbukti dunia.

Dikatakannya, cadangan gas terbukti Indonesia sampai saat ini sebesar 100 tcf (trillion cubic feet). Diantaranya, paling dominan atau sebanyak 40 tcf berada di Laut Natuna dan hingga saat ini penggarapan proyeknya belum ada perkembangan yang signifikan.

Arcandra menegaskan, adanya cadangan tidak menjamin kemakmuran suatu bangsa. Sebagai contoh, Venezuela yang menjadi raja minyak namun terbukti terjerat masalah ekonomi. Begitu juga dengan negeri-negeri yang kaya cadangan gas.

"Negara kaya gas lebih makmur? Belum tentu juga, liat Iran, Qatar. Indonesia cuma mewakili 1,5 persen cadangan terbukti dunia. Kalau kita kurangi Natuna 40 tcf, rangking kita jauh di bawah," katanya saat menjadi narasumber dalam RDPU Badan Anggaran DPR RI, Senin (17/2/2020).

Untuk diketahui, saat ini cadangan minyak RI hanya 0,2 persen dari cadangan minyak terbukti dunia. Indonesia bahkan masih kalah jauh dengan Malaysia yang berada pada 7 sampai 8 peringkat di atasnya.

Diambahkan Arcandra Tahar, ada beberapa strategi untuk mengurangi atau menekan impor minyak dan digantikan dengan pasoka dalam negeri. Upaya yang bisa dilakukan pemerintah pertama dengan menerapkan teknologi enhanced oil recovery (EOR). Teknologi ini mampu meningkatkan jumlah minyak diekstrak dari ladang minyak hingga 60 persen. Menurutnya, teknologi ini mampu meningkatkan produksi minyak secara jangka pendek. 

Sedangkan cara kedua adalah cara jangka panjang yaitu dengan melakukan eksplorasi. Langkah ini mampu untuk meningkatkan pasokan di kilang.

Selanjutnya, Arcandra mengungkapkan alternatif lain yakni dengan menggantikan bahan bakar minyak dengan memanfaatkan energi lainnya.

"Strategi selanjutnya adalah dengan kendaraan listrik, energi listrik tidak pernah impor, karena dipasok oleh domestik. Kalau andalkan migas, kita butuh impor crude dan BBM," jelasnya. kbc10

Bagikan artikel ini: