Kemenperin gencarkan program Santripreneur

Selasa, 18 Februari 2020 | 22:08 WIB ET
Dirjen IKMA Kemenperin Gati Wibawaningsih
Dirjen IKMA Kemenperin Gati Wibawaningsih

SERPONG, kabarbisnis.com: Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menggencarkan Program Santripreneur, guna menumbuhkan wirausaha baru di Industri Kecil Menengah (IKM). Melalui Direktorat Jenderal Industri Kecil Menengah dan Aneka (Ditjen IKMA), para santri Pondok Pesantren (Ponpes) diberikan pelatihan serta fasilitas mesin untuk memulai wirausaha baru.

"Perdana pada 2020 ini, Ditjen IKMA melanjutkan Program Santripreneur melalui Program Penumbuhan Wirausaha Baru IKM Berbasis Pondok Pesantren dalam bentuk bimbingan teknis serta fasilitasi mesin dan peralatan kepada Pondok Pesantren Madinatunnajah, Pondok Pesantren Al Fathaniyah dan Pondok Pesantren Riyadlul Jannah Provinsi Banten," kata Dirjen IKMA Kemenperin Gati Wibawaningsih di Serpong, Tangerang Selatan, Selasa (18/2/2020).

Gati menambahkan tiga Ponpes yang disebutkannya akan diberi bimbingan teknis wirausaha industri pengolahan roti, dan perbengkelan roda dua. "Ketiga ponpes ini telah mengajukan proposal dan akan diberikan Bimbingan Teknis Wirausaha IKM Pengolahan Roti untuk Ponpes Maditunnajah dan Ponpes Al-Fathaniyah, serta Bimbingan Teknis dan Fasilitasi Mesin/Peralatan Perbengkelan Roda Dua di Ponpes Riyadlul Jannah Kresek Kabupaten Tangerang," jelas Gati.

Menurutnya wirausaha memegang peranan penting dalam menyokong pertumbuhan ekonomi nasional. Berdasarkan data Global Entrepreneurship Index 2018, kewirausahaan Indonesia saat ini berada di peringkat 94 dalam di antara 137 negara atau peringkat 16 di antara negara-negara Asia Pasifik.

"Kami terus laksanakan program ini untuk mengembangkan pemberdayaan ekonomi berbasis pondok pesantren dan menumbuh kembangkan semangat kewirausahaan di kalangan santri maupun alumni santri," tambahnya.

Gati juga menyebutkan terdapat narasumber pelatihan dari Amazon Web Service (AWS) dan IdEA. Para narasumber ini akan memberikan wawasan mengenai teknologi serta proses produksi dalam berwirausaha.

"Mereka juga akan memberikan wawasan tentang cloud computing dan digital marketing yang merupakan bagian dari revolusi industry 4.0 dan sejalan dengan program Kemenperin Making Indonesia 4.0," ujarnya.

Diketahui Ditjen IKMA telah membina sebanyak 46 pondok pesantren dengan lebih dari 8.628 orang santri melalui pelatihan produksi dan motivasi kewirausahaan sejak tahun 2013.Ponpes ini berada di tujuh provinsi yakni Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, Yogyakarta , Lampung, Banten dan Kalimantan Timur.

Adapun tahun 2020 ini , pihaknya melakukan pembinaan serupa kepada 36 ponpes di seluruh Tanah Air.Kemenperin menyiapkan Rp 10 miliyar untuk menjalankan program Santripreneur. "Besok kita ke Tegal. Satu ponpes itu sekitar Rp 300-Rp 500 juta," terangnya .

Gita menjelaskan program Santripreneur sudah berhasil diterapkan dengan baik hingga saat ini, oleh Ponpes yang mendapatkan pembinaan dan pelatihan. Contohnya adalah pelatihan produksi alas kaki di Ponpes Sunan Drajat, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur pada tahun 2017. “Di Ponpes itu sudah mampu menghasilkan unit industri alas kaki yang memproduksi lebih dari 4.000 pasang sandal jepit spon per bulan,” pungkasnya.kbc11

Bagikan artikel ini: