Bank Mandiri sebar dividen Rp16 triliun

Kamis, 20 Februari 2020 | 08:05 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: PT Bank Mandiri (Persero) Tbk pada Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) menyepakati pembagian dividen sebesar 60 persen dari laba bersih tahun 2019 sekitar Rp 16,49 triliun atau Rp 353,34 per lembar saham.

Nilai tersebut meningkat dibandingkan tahun sebelumnya yang sebesar Rp 11,2 triliun atau sekitar Rp 241 per lembar saham. Adapun, porsi dividen kali ini meningkat dari 45 persen menjadi 60 persen.

“Penetapan besaran dividen tersebut telah memperhatikan kebutuhan likuiditas perseroan dalam mengembangkan bisnis dan memenuhi ketentuan terbaru regulator, serta sebagai bentuk apresiasi perseroan kepada pemegang saham atas kepercayaan dan dukungannya, sementara sisa 40 persen dari laba bersih 2019 akan digunakan sebagai laba ditahan,” kata Direktur Utama Bank Mandiri Royke Tumilaar usai RUPST di Plaza Mandiri, Jakarta, Rabu (19/2/2020).

Direktur Keuangan dan Strategi Silvano Winston Rumantir menambahkan, besaran dividen tersebut sudah memperhitungkan rasio permodalan dan dampak pajak penghasilan atas dividen (sebagaimana didefinisikan dalam PSAK 71). Ia pun menyatakan Bank Mandiri tetap akan menjaga rasio kecukupan modal (CAR) di atas 18 persen. Adapun cum date dividen jatuh pada 27 Februari dan pembayaran paling lambat ke pemegang saham yakni tanggal 20 Maret 2020. "Besaran dividen masih aman untuk pertumbuhan kredit," pungkas Winston Rumantir.

Terkait kredit, Royke mengakui di awal tahun ini memang penyalurannya agak sedikit terhambat dampak virus korona. Ia pun hanya menargetkan kredit tahun ini 10 persen.

Bank Mandiri tahun 2019 membukukan laba bersih secara konsolidasi Rp 27,5 triliun atau tumbuh 9,9 persen secara year on year (yoy). Pencapaian tersebut didukung oleh pertumbuhan kredit konsolidasi yang sebesar 10,7 persen YoY hingga mencapai Rp 907,5 triliun pada akhir tahun lalu.

Dari kucuran tersebut, perseroan berhasil mencatat pendapatan bunga bersih sebesar Rp 59,4 triliun, naik 8,8 persen YoY dibanding tahun sebelumnya. Alhasil, aset perseroan pun terkerek naik 9,65 persen menjadi Rp1.318,2 triliun pada akhir tahun lalu.

Seiring keinginan untuk tumbuh secara sehat dan berkelanjutan, Bank Mandiri berhasil memperbaiki kualitas kredit yang disalurkan sehingga rasio NPL gross turun 42 bps menjadi 2,33 persen dibandingkan Desember tahun lalu. Dampaknya, biaya cadangan kerugian penurunan nilai (CKPN) pun ikut melandai sebesar -14,9 persen YoY menjadi Rp 12,1 triliun. kbc10

Bagikan artikel ini: