Bangun pabrik roda kereta di Gresik, Barata rogoh kocek Rp500 miliar

Jum'at, 21 Februari 2020 | 19:56 WIB ET
Direktur Utama Barata Indonesia Fajar Harry Sampurno
Direktur Utama Barata Indonesia Fajar Harry Sampurno

JAKARTA, kabarbisnis.com: PT Barata Indonesia (Persero) segera membangun pabrik roda kereta api di Gresik Jawa Timur. Pembangunan pabrik tersebut akan menelan biaya Rp 500 miliar dan ditargetkan akan mulai beroperasi secara komersial tahun ini.

Direktur Utama Barata Indonesia Fajar Harry Sampurno menuturkan saat ini kebutuhan roda kereta api masih impor dari Tiongkok dan Eropa. Dengan adanya pabrik tersebut dia berharap perusahaan dapat memenuhi kebutuhan komponen kereta api dalam negeri. "Roda ini pemakaiannya cukup besar di Indonesia, tapi masih impor. Karena tidak mudah produksi roda kereta api," kata Fajar di Jakarta, Jumat (21/2/2020).

Fajar menjelaskan pasar untuk produk roda kereta akan semakin meningkat seiring dengan gencarnya pembangunan infrastruktur di Tanah Air. Kebutuhan roda kereta diperkirakan mencapai 20.000 unit, yakni untuk kebutuhan kereta rel listrik (KRL), light rail transit atau Lintas Raya Terpadu (LRT), dan Mass Rapid Transit atau Moda Raya Terpadu (MRT).

Fajar menjelaskan dua tahun terakhir ini negara mengalami defisit neraca perdagangan, karena tingginya nilai impor, dan terdepresiasinya mata uang rupiah. Misalnya saja pada periode 2018 sebanyak 75% bahan baku industri diimpor. Sehingga keberadaan pabrik tersebut diharapkan dapat membantu mengurangi defisit neraca perdagangan.

"Kalau impor tersebut membesar, dalam jangka panjang bisa inflasi. Akibatnya barang produksi dan konsumsi semakin mahal," tukasnya.

Selain untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri, Barata juga menggenjot pasar ekspor ke Benua Afrika, di antaranya Kongo dan Tanzania. Adapun barang-barang yang akan diekspor berupa komponen bogie roda kereta api. Adapun saat ini Barata telah mengekspor produk komponen turbin ke Argentina, Panama, Maroko, Dubai, Pakistan, Irak, Bangladesh, Singapura, Korea, dan Jepang. Kemudian ekspor foundry ke Argentina, Chile, dan Australia, dan produk peralatan pabrik semen ke Dubai dan Kanada. Kbc11

Bagikan artikel ini: