Meski pembiayaan terkoreksi, laba Adira Finance tumbuh 16%

Jum'at, 21 Februari 2020 | 22:28 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Meski industri otomotif nasional tengah mengalami kelesuan penjualan ,PT Adira Dinamika Multi Finance, Tbk (Adira Finance) mencatatkan pertumbuhan laba sebesar dua digit pada tahun 2019.

Presdir Adira Finance Hafid Hadeli mengatakan perusahaan berhasil membubuhkan laba bersih sepanjang tahun 2019 sebesar Rp 2,1 triliun. Angka tersebut mengalami kenaikan mencapai 16% bila dibandingkan dengan perolehan laba bersih di akhir tahun 2018 lalu.

Menurut Hafid perolehan laba bersih disepanjang 2019 tersebut ditopang pendapatan bunga yang naik 10% menjadi Rp12 triliun.Sedangkan beban bunga naik 13% menjadi Rp 4,8 triliun. Sehingga pendapatan bunga bersih naik 8% menjadi Rp 7,2 triliun.

Selain itu, pendapatan operasional yang naik sebesar 11% menjadi Rp 8,3 triliun, juga mendorong laba bersih perseroan di 2019. Namun, disisi lain biaya operasional pun naik 8% menjadi Rp 3,7 triliun. Dengan demikian, kondisi ini menghasilkan kenaikan 14% dalam laba operasi bersih menjadi Rp4,6 triliun.

“Biaya kredit kami sebesar Rp 1,7 triliun, yang menghasilkan 16% laba bersih sebelum pajak menjadi Rp 2,9 triliun. ROA dan ROE kami masing-masing sebesar 6,3% dan 29,2% yang menunjukkan sedikit perbaikan dari tahun 2018,” ujar Hafid di Jakarta, Jumat (21/2/2020).

Direktur Keuangan Adira Finance I Made  Susila mengatakan laba perseroan diakhir tahun lalu juga ditopang oleh piutang perusahaan yang mencapai Rp 54,8 triliun atau tumbuh sebesar 7% dibandingkan dengan akhir tahun 2018. Tercatat, piutang sepeda motor tumbuh 10% menjadi Rp 25,1 triliun dan piutang mobil tumbuh 5,4% menjadi Rp28,1 triliun. “Dalam lingkungan bisnis saat ini, kami akan melanjutkan transformasi kami menjadi organisasi digital dan berfokus pada pelanggan,” ujarnya.

Made mengakui penyaluran pembiayaan sektor otomotif mengalami koreksi sepanjang 2019.Menurutnya tahun 2019 merupakan tahun yang penuh tantangan bagi perusahaan multifinance yang bergerak di pasar otomotif seiring lesunya penjualan.

Penjualan sepeda motor domestik wholesales naik tipis sebesar 1,6% year on year (yoy) menjadi 6,48 juta unit dibandingkan dengan perolehan pada 2018. Sementara penjualan mobil domestic wholesales turun 11% yoy menjadi 1,03 juta unit 2018.

I Made menjelaskan perusahaan membukukan pembiayaan baru sebesar Rp 37,9 triliun sepanjang 2019. Nilai itu turun tipis 1% yoy dari 2018 senilai Rp 38,2 triliun. Segmen sepeda motor meningkat 6% menjadi Rp 20,2 triliun, sedangkan segmen mobil turun 7% menjadi Rp 15,7 triliun.kbc11

Bagikan artikel ini: