Petani meradang, nilai impor gula tidak diperlukan

Selasa, 25 Februari 2020 | 22:48 WIB ET

SURABAYA - Usulan Perum Bulog agar pemerintah membuka keran impor untuk gula konsumsi 200 ribu ton mendapat penolakan dari petani. Pasalnya, hingga Mei stok gula masih mencukupi kebutuhan konsumsi nasional.

Petani tebu yang tergabung dalam Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) dengan tegas menyatakan pemerintah tak perlu untuk impor gula lantaran stok gula masih mencukupi hingga bulan Mei 2020.

Dia menyebutkan, saat ini sisa stok akhir tahun 2019 sebanyak 1,080 juta ton, masih ada gula impor Gula Kristal Putih (GKP) sebayak 270 ribu ton. Sehingga total stok awal tahun 2020 sebanyak 1,350 juta ton.

“Jadi untuk memenuhi kebutuhan bulan Januari-Mei 2020 stok cukup karena kebutuhan gula konsumsi per bulan rata-rata 230 ribu ton secara nasional. Jadi lima bulan kira-kira butuh 1,150 juta ton,” ujar Sekretaris Jenderal APTRI, Nur Khabsyin, kemarin (24/2).

Soal harga gula melambung di tingkat eceran, menurut dia masih tahap batas wajar lantaran kenaikannya hanya Rp2 ribu per kilogram (kg), yakni menjadi Rp14 ribu hingga Rp15 ribu per kg.

“Jadi masih wajar kenaikan gula konsumsi di angka Rp1 ribu hingga 2 ribu per kg, namun dibandingkan dengan bawang putih atau daging sangat jauh sekali kenaikannya bisa di atas Rp30 ribu,” tutur dia.

Dia juga menyayangkan, perhitungan Direktur Eksekutif Asosiasi Gula Indonesia (AGI), Budi Hidayat, yang menyebut kebutuhan impor gula konsumsi sebanyak 1,3 juta ton. Angka itu sangat fantastis dan lebay.

“Kami menyayangkan Budi Hidayat selaku Direktur Eksekutif AGI yang tidak paham dan tidak cermat dalam menghitung berapa kebutuhan gula konsumsi dan berapa produksi gula dalam negeri,” ucap dia. kbc9

Bagikan artikel ini: