Kala digitalisasi tumbuhkan kecintaan kaum milenial terhadap agribisnis

Rabu, 26 Februari 2020 | 09:00 WIB ET

SERPONG, kabarbisnis.com: Sekitar 62% kelompok petani sudah memasuki usia senja. Sementara mayoritas pengelolaan budidaya masih tergolong tradisional dan lemahnya posisi tawar petani terhadap pasar mengakibatkan harga produk pertaniannya tidak memadai.

Deeng Sanyoto, Head of Partnership and Social Impact Tanihub Group- Start Up Teknologi Pertanian mengingatkan  situasi  agribinis pertanian di Tanah Air yang menuju fase kritis ini bukan hanya tanggung jawab pemerintah semata. Padahal , Indonesia sebagai negara agraris, sekitar 260 juta jiwa masyarakatnya membutuhkan pasokan produk pertanian yang memadai sepanjang tahun.

Atas hal ini, Michael Jovan,sebut Deeng, mahasiswa Business Information System BINUS Internasional bersama kawan-kawannya tergerak membangun TaniHub di tahun 2016 yang menyoroti hasil panen petani tomat yang dihargai Rp 600 per kilogram (kg). Padahal di harga pasaran mencapai sepuluh kali lipat yang notabene justru dinikmati tengkulak dan pedagang.

Deeng menegaskan sentuhan inovasi teknologi harus hadir guna memutus mata rantai distribusi produk pertanian yang tidak efisien. Untuk itu dibutuhkan kolaborasi kuat dari pemangku kepentingan, regulator dan dunia usaha dan akademisi.

“Kami percaya membangun pertanian itu maka semua orang harus terlibat. Karenanya, salah satu tagline kami buat adalah agriculture for everyone.. Termasuk para milineal, ketika bangga membeli produk petani negeri maka Anda pun menjadi bagian dari petani,” ujar Deeng dalam Talkshow with Millennial & Agriprenerur –Peluang Bisnis Generasi Milenial Pada Sektor Pertanian di Serpong,Tangerang Selatan Selasa (25/2/2020).

Bukan hanya membantu masyarakat memperoleh produk pertanian , TaniHub juga berupaya meningkatkan kesejahteraan petani. Hingga kini, TaniHub sudah menjalin kemitraan dengan 30.000 petani yang tergabung hampir  1.000 kelompok tani.

Selain sebagai platform e-commerce yang menjual hasil tani, sambung Deeng  TaniHub juga memiliki unit bisnis lainnya, TaniFund sebagai fintech pendanaan bagi mitra petani .Menurutnya pinjaman yang disalurkan sudah mencapai sekitar Rp 80 miliar.

Adapun lini bisnis teranyar bernama TaniSupply yang terfokus kepada pengelolaan rantai pasok. “Kita bergerak mulai dari hulu, mulai mengirimkan agronomis untuk mendampingi  petani untuk menanam . Kita memberikan modal. Sudah seharunya petani memikirkan kualitas  hasil pertanian agar sesuai spesifikasi, ukuran dan kebutuhan konsumen,” terangnya.

Menurutnya inefisiensi lini agribisnis terjadi karena lossses paska panen yang mencapai 24% .Karenanya TaniHub membangun warehouse dari grading hingga quality assurance. Untuk itu TaniHub pun memiliki sarana berupa alat yang mampu mengukur kadar kemanisan buah sehingga mampu memenuhi selera konsumen.

Bukan hanya memfasiltilasi petani dengan konsumen ritel,TaniHub juga mencarikan pengembangan pasar segmen horeka.” Dari hotel seperti Ibis, Mc Donald sampai warteg pun membeli produk petani dengan memanfaatkan e-commerce,” kata dia.

Kesempatan sama, Kabiro Humas dan Informasi Publik Kementan Kuntoro Boga Andri mengatakan sektor agribisnis pertanian tetap menjanjikan bagi generasi milineal. “Kalau dibilang pertanian itu bukan pekerjaan menjanjikan bagi milenial, justru terbalik. Sektor pertanian kita cukup baik. Kita lihat dari neraca perdagangan yang positif dengan kontribusi besar dari sektor pertanian,” ujar Boga.

Kementan sendiri tengah mengembangkan pusat data berbasis teknologi yang bernama Agriculture War Room (AWR). Fasilitas ini mampu menyajikan single data mengenai lahan dan produksi serta melakukan kontrol terhadap pembangunan pertanian. “Pertanian sekarang bukanlah sektor yang dianggap rendah tetapi sektor yang menjanjikan,” pungkasnya.kbc11

Bagikan artikel ini: