Wabah virus corona ancam bahan baku industri manufaktur

Rabu, 26 Februari 2020 | 23:39 WIB ET
Wakil Ketua MPR RI Fadel Muhammad (kiri), Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita (kedua dari kiri) dan Presiden Director PT Future Pipe Industries (FPI) Imad Makhzoumi (berjas dan dasi warna biru)
Wakil Ketua MPR RI Fadel Muhammad (kiri), Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita (kedua dari kiri) dan Presiden Director PT Future Pipe Industries (FPI) Imad Makhzoumi (berjas dan dasi warna biru)

TANGERANG, kabarbisnis.com: Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita mengkhawatirkan wabah virus corona yang kian meluas penyebarannya di negara Eropa dan Timur Tengah dapat berdampak terhadap kelangsungan industri manufaktur nasional .

"Saya lihat kepulihan dari wabah (virus Corona red) gak akan lebih dari bulan Agustus,bukan berarti mendahului .Tapi hal ini juga analisa dari para ahli," ujar Agus kepada wartawan disela acara pengiriman ekspor perdana pipa Fiberglass ke Amerika Serikat di Tangerang, Banten, Rabu (26/2/2020).

Menperin menambahkan para pemangku kepentingan harus mengantisipasi persoalaan ini sedini mungkin. Apabila wabah virus Corona tidak juga teratasi maka banyak industri manufaktur di Tanah Air yang menghadapi persoalaan ketersediaan bahan baku.

China, sebut Menperin bagaimanapun merupakan negara yang menjadi mitra dagang strategis. Kontribusi dalam neraca perdagangan berkontribusi hingga 30% dari total perdagangan ekspor impor .Hal sama apabila dikaitkan dengan perdagangan manufaktur.

"Saya tanya manajemen The Future Pipe Industries , mereka masih mempunyai bahan baku selama tiga bulan ke depan," kata dia.

Namun Agung pun mengakui pihaknya mendapatkan laporan dari asosiasi bahwa virus Corona ini telah menyebabkan industri tekstil dan produk tekstil berhenti operasi karena kesulitan bahan baku.Menurutnya ada industri yang membutuhkan barang modal untuk mendorong kapasitas produksinya.

Ditambahkannya bukan hanya industri di Indonesia saja yang memerlukan bahan baku dari China.Hal demikian juga dialami industri di negara lainnya mengingat negara Tirai Bambu tersebut mampu menyediakan pasokan material dengan harga yang sangat kompetitif .

Bukan hanya masalah ketersediaan bahan baku, menurutnya barang-barang produksi manufaktur nasional juga akan mengalami hambatan ekspor ke China.Pasalnya akses perdagangan yang tertutup dan daya beli yang terbatas.

Mantan Menteri Sosial ini melihat kondisi ini gilirannya akan memicu beralihnya negara alternatif yang dapat menyediakan bahan baku.Hanya saja hal tersebut bukan tanpa konsekuensi, yakni harga bahan baku menjadi lebih mahal karena tingginya permintaan sementara persediaan belum tentu memadai ."Hal ini menjadi dayang saing produksi akan menjadi turun," terangnya

Agung menbahkan Kemenperin tengah menggodok kebijakan berupa insentif bagi industri yang membutuhkan bahan baku. "Intervensi ini dapat berupa penurunan bea masuk bahan baku impor.Dengan begitu daya saing industri tetap terjaga," terangnya

Asal tau saja, Kemenperin menetapkan target pertumbuhan industri manufaktur pada 2020 sebesar 5,3 %.Sementara sektor industri pengolahan pada 2019 hanya tercatat tumbuh 3,8%.

Peran industri pengolahan sangat besar kepada perekonomian karena merupakan penyumbang terbesar struktur Produk Domestik Bruto (PDB) yaitu mencapai 19,7% pada 2019.

Selain industri, struktur PDB juga disumbangkan oleh sektor perdagangan (13,01%), pertanian (12,72%), konstruksi (10,75%), pertambangan (7,26%) serta transportasi dan pergudangan (5,57%).kbc11

Bagikan artikel ini: