Industri teh nasional terancam lumpuh

Kamis, 27 Februari 2020 | 21:52 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Industri teh nasional saat ini sudah pada tahap mengawatirkan. Apabila pemerintah tetap bersikap acuh untuk segera melakukan pembenahan dari hulu-hilir, industri teh nasional terancam lumpuh.

Iriana Ekasari, pendiri Teh Sila mengungkapkan ada beberapa penghambat yang harus dibenahi, agar industri teh nasional tak lumpuh. Pembenahannya memang dari hulu-hilir.

"Karena itu, pemerintah dan pemangku kepentingan lainnya segera turun tangan untuk mengatasi kendala pengembangan industri teh nasional. Jika pemerintah tak turun tangan, industri teh akan lumpuh," papar Iriana Ekasari dalam diskusi "Strategi Pengembangan Agribisnis Teh Dalam Rangka Meningkatkan Ekspor 2,5 Kali" di Jakarta, Kamis (27/2/2020).

Pembenahan industri teh perlu segera dilakukan, karena pasar komoditas teh dunia pun bergerak ke arah teh premium. Sementara itu, industri teh nasional masih berkutat pada teh non premium.

Namun, menurut Iriana untuk melakukan pembenahan di hulu sepertinya tak semudah membalikkan telapan tangan. Pasalnya, riset teh Indonesia pun dibiarkan merana. Bahkan, riset teh tidak didanai oleh industri maupun pemerintah. Akibat lemahnya riset tersebut, klon teh Indonesia kalah unggul dalam hal inner quality dibandingkan teh negara lain. "Bandingkan dengan Srilanka, saat ini klon-nya sudah seri 5.000," ujarnya.

Iriana juga mengatakan pasar teh Indonesia secara mayoritas tidak dididik menggunakan teh berkualitas. Akibatnya, ketika ekspor komoditas teh tertekan, industri teh kesulitan membanjiri pasar dalam negeri.

"Konsumen pun perlu diedukasi, bahwa minum teh itu menyehatkan. Kalangan milenial harus diajarkan minum teh, supaya kita punya pasar di dalam negeri. Minum teh juga dijadikan budaya, karena punya nilai historis dan ekologis bagi suatu daerah," kata Iriana.

Menurut Iriana selain teh premiun, konsumen saat ini juga menginkan produk teh yang punya nilai tambah, seperti manfaat kesehatan. Artinya, konsumen tak lagi hanya murni mengkonsumsi teh biasa. “Sehingga, fokus industri teh ke depan tak sekadar mengejar produktivitas, tapi juga kualitas,” pungkasnya.

Ketua Umum Asosiasi Petani Teh Inonesia (Aptehindo) Nugroho B. Koesnohadi juga merasakan keprihatinan melihat perkembangan industri teh nasional. Sebab, kurun 10 tahun terakhir luas lahan kebun teh,--yang umumnya berupa kebun teh rakyat mengalami penurunan.

Data Aptehindo menyebutkan, pada tahun 2009 luas perkebunan teh di Indonesia sebanyak 123.506 hektar (ha). Kurun 10 tahun terakhir (pada tahun 2019) luas kebun teh tinggal 113.029 ha. Artinya, dalam waktu 10 tahun areal teh di Indonesia menurun seluas 10,477 ha.

"Penurunnya rata-rata lebih dari 1.000 ha per tahun. Cukup banyak areal perkebunan teh BUMN dan perkebunan besar swasta (PBS) dikonversi ke tanaman lain. Karena pengusahaan tanaman teh dinilai oleh mereka kurang menguntungkan," papar Nugroho.

Kendati lahannya berkurang, lanjut Nugroho kurun lima tahun terakhir banyak petani teh rakyat yang melakukan penanaman baru (new planting) maupun replanting dilahan mereka maupun dilahan PHBM (Pengelolaan Hutan Bersama Masyarakat). "Dari penanaman inilah kami harapkan bisa mendorong industri teh nasional supaya tak terpuruk," ujarnya.

Menurut Nugroho untuk memperbaiki sektor hulu, pemerintah dan stakeholder terkait perlu melakukan perbaikan lingkungan agribisnis teh. Selain itu, untuk mendorong program lima tahun ke depan perlu road map yang lebih fokus dan detail.

"Pelaksanaan program pengembangan industri teh, selain dari APBN juga bisa didukung sumber dana dan organisasi kerja yang memadai. Bisa juga memanfaatkan KUR," pungkas Nugroho.kbc11

Bagikan artikel ini: